Dilansir laman Carscoops, Jumat (10/10/2014) CEO Lamborghini Stephan Winkelmann mengatakan, teknologi yang ada pada Asterion itu hanya untuk menggambarkan penelitian dalam mengatasi tekanan legislatif untuk mengurangi emisi karbon.
Dengan kata lain, studi pada Asterion ini tidak akan menghadirkan model produksi untuk bersaing dengan Ferrari LaFerrari, McLaren P1 atau Porsche 918 Spyder. Menurutnya, baterai yang digunakan juga lebih berat 150 kg dibanding baterai yang digunakan oleh pesaingnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sangat percaya bahwa ini adalah bukan mobil yang akan diproduksi dan kami tidak akan melakukannya," tegasnya dalam sebuah interview dengan Maxim.
Tapi Winkelmann mengakui teknologi yang ada pada Asterion ini akan menjadi cara Lamborghini di masa depan ketika meluncurkan model Sport Utility Vehicle (SUV).
Menurutnya, hal itu akan sangat mudah jika diaplikasikan ke SUV karena dalam hal kemasan serta bobot cukup mendukung. Teknologi ini tidak akan cocok jika diterapkan pada mobil sekelas super sport.
Namun Winkelmann berkata jika ada orang yang mau memesannya, Lamborghini siap untuk memproduksinya dalam jumlah terbatas.
"Jika ada seseorang menginginkan 1 unit, maka kita bisa melakukannya. Tapi mungkin hanya 1 unit dan tidak menggunakan mesin hybrid tapi mesin konvensional dengan mesin V12 dari Aventador," pungkasnya.
(ady/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
Impor Pickup India Disebut Lebih Murah, Segini Harganya
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih