Program mobil murah atau yang lebih dikenal sebagai Low Cost and Green Car (LCGC) kembali menjadi kontroversi. LCGC dianggap banyak menimbulkan mudarat dibanding manfaat.
Alasannya sederhana, besarnya manfaat pajak yang diberikan berbanding terbalik dengan pengeluaran pemerintah untuk memberi subsidi pada peningkatan penggunaan premium yang banyak digunakan oleh mobil LCGC tersebut.
Bayangkan saja, dari Januari sampai Juli sudah ada sekitar 100 ribu mobil LCGC yang terjual di Indonesia. Dari jumlah itu, kebanyakan masih menggunakan bensin bersubsidi walaupun produsen dan pemerintah menganjurkan untuk menggunakan bensin non subsidi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman MR pun mengakui kalau sudah seharusnya mobil-mobil LCGC menggunakan bensin non subsidi. Tapi permasalahannya ada di tingkat konsumen. "Karena kita kan tidak bisa awasi semuanya," ujarnya.
Tapi, Sudirman mengatakan kalau program LCGC ini jangan selalu dilihat dari sisi negatif saja. Sebab, pada dasarnya mobil LCGC juga membayar pajak seperti mobil lainnya. Subsidi pajak hanya pada PPnBM saja.
Di sisi lain ada hal positif dari program ini seperti kucuran investasi yang bertambah dan industri makin banyak menyerap tenaga kerja.
(syu/lth)












































Komentar Terbanyak
Sekarang Dijual Rp 16.250/Liter, Ternyata Harga Asli Pertamax Segini
Penjelasan Pertamina soal Harga Pertamax Tiba-tiba Naik 10 Juni
Bikin SIM Digital Nggak sampai 5 Menit, Tanpa Biaya