Raksasa otomotif Jepang itu menurut Wall Street Journal tengah bersiap untuk membayar lebih dari US$ 1 miliar atau sekitar Rp 12,16 triliun untuk mengakhiri penyelidikan terkait isu 'kecepatan yang tidak diinginkan.'
Ini adalah sebuah isu yang sangat panas di Amerika Serikat pada 4 tahun lalu. Presiden Toyota, Akio Toyoda bahkan dipanggil ke depan kongres AS pada tahun 2010 untuk menjelaskan masalah ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan dalam hampir empat tahun sejak penyelidikan ini dimulai, kami telah membuat perubahan mendasar untuk menjadi lebih responsif dan fokus pada pelanggan dan kami berkomitmen untuk terus meningkatkannya," lanjutnya.
Meski bukti yang menunjukkan kalau mobil Toyota cacat sedikit, Toyota lebih memilih berdamai dan membayar kompensasi. Terlebih Badan Keselamatan Lalu Lintas dan Jalan Raya Amerika atau National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) pernah menemukan adanya kelemahan pada throttle-control atau perangkat lunak pada mobil.
Ada pula masalah karpet yang mengganggu kerja pedal. Akibat masalah percepatan yang tidak diinginkan pula, Toyota harus menghadapi ratusan gugatan dari konsumennya. Class action juga dilayangkan untuk menuntut produsen Jepang ini.
Akibat masalah ini, Toyota menarik 10,2 juta kendaraan di AS dan 12,4 juta kendaraan di seluruh dunia karena ada masalah yang berkaitan dengan 'percepatan yang tidak diinginkan.'
Bila angka US$ 1 miliar ini benar-benar terealisasi, maka ini adalah denda terbesar yang diberikan pemerintah AS pada sebuah produsen mobil.
(syu/ikh)












































Komentar Terbanyak
Resmi Turun, Ini Harga BBM Se-Indonesia Juli 2026
Insentif Kendaraan Listrik Molor lagi, Ini Alasan Menkeu Purbaya
Bahlil: Harga BBM Baru Naik 3 Minggu, Masa Udah Ditanya Kapan Turun