Fenomena ini tentu tidak bisa disangkal karena produsen ingin mencari keuntungan besar. Kendati demikian balik lagi ke konsumen yang memilih kendaraan pribadi.
Wakil Ketua I Gaikindo Jongkie D. Sugiarto menilai meski maraknya kendaraan model baru, namun masyarakat Indonesia semakin pintar dalam memilih kendaraan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadi menurut Jongkie permasalahannya adalah seberapa besar produsen menawarkan mobil yang hemat bahan bakar.
Saat ini sebagian besar masyarakat Indonesia memilih kendaraan pribadi dengan teknologi mesin mutakhir yang jelas-jelas hemat BBM, bukan asal merek dan desain.
Kalau pun ada konsumen yang masih tertarik membeli 'rakus' BBM itu pun relatif kecil dan tidak sebanding seberapa besar konsumen yang membutuhkan kendaraan hemat bahan bakar minyak.
Di tambahkan Jongkie, kesadaran masyarakat membeli mobil hemat BBM karena dilema dengan keperkasaan pemerintah yang bisa menaikkan tiba-tiba harga BBM di Indonesia. Lantas beban pemilik mobil pun semakin berat.
Di samping itu, dengan banyaknya kendaraan hemat BBM yang beredar maka bakal meringankan beban pemerintah setiap tahunnya.
"Ini dampaknya besar. Apalagi kalau pemerintah mengurangi subsidi BBM. Akibatnya harganya BBM naik lagi kan. Jadi faktor irit itu penentu," tutup Jongkie.
(ikh/lth)












































Komentar Terbanyak
Indonesia Ditinggal Kabur Pabrik Otomotif, Pemerintah Harus Ambil Sikap!
Haram Dilakukan saat Ujian Praktik SIM C, Sepele tapi Bikin Auto Gagal
Harga BBM di Malaysia Turun, Bensin RON 95 Non-subsidi Setara Rp 15 Ribuan