Menanggapi hal itu, Bos Global Chevrolet Alan Batey menjelaskan kalau hengkangnya Chevrolet dari Eropa dikarenakan GM melihat kesempatan yang lebih baik untuk berinvestasi di tempat lain. GM akan fokus berinvestasi pada Vauxhall-Opel.
Faktor lainnya juga karena penjualan Chevrolet di Eropa sangat kecil. Tahun lalu saja hanya berhasil menjual mobil sebanyak 200.000 unit atau dengan marketshare dibawah 1 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Chevrolet berhasil menjual 5 juta unit mobil secara global dan kami melihat peluang pasar besar untuk tumbuh lebih cepat dan secara signifikan di Asia," timpalnnya.
Batey juga menambahkan kalau GM terbilang gagal dalam membedakan Chevrolet dan Vauxhall-Opel. Ada produk yang menggunakan platform sama dan bentuknya terlalu mirip.
"Harganya sama, biaya produksi pun sama, jadi tidak mungkin salah satunya dijadikan sebagai versi harga terjangkau. Keduanya cukup menentang bila salah satu merek dilihat sebagai pabrikan menengah ke atas," lugasnya.
Sementara itu, Bos Vauxhall-Opel Karl Thomas Neumann juga mengatakan "Kami memutuskan Vauxhall-Opel sebagai merek yang cukup kuat, maka dari itu kami menghindari yang namanya masalah. Hal ini sangat disayangkan jika kami berbagi jaringan diler, konsumen akan bingung karena melihat produk tanda adanya referensi di tempat yang sama," katanya.
Hal senada juga dikatakan oleh bos GM yang baru, Mary Barra. Ia menyatakan dukungannya kepada Vauxhall-Opel.
"Vauxhall-Opel sangat penting bagi kami dan kami telah membuat keputusan untuk berinvestasi. Kami percaya bahwa keputusan yang kami buat pada akhir tahun lalu akan membantu keduanya," tandasnya.
(ady/lth)












































Komentar Terbanyak
Heboh Avanza-Xpander Cs Bakal Dilarang Isi Pertalite, Pertamina Bilang Begini
Jawaban Pindad soal Prabowo Minta Desain Mobil Khusus Presiden Sapa Rakyat
SIM Digital Meluncur, Apa Keunggulannya?