Premium Mahal, Orang Beralih ke Mobil Diesel?

Premium Mahal, Orang Beralih ke Mobil Diesel?

- detikOto
Selasa, 18 Jun 2013 15:26 WIB
Premium Mahal, Orang Beralih ke Mobil Diesel?
Jakarta - Pemerintah akan menaikkan harga BBM premium Rp 6.500 dan solar Rp 4.500. Terdapat selisih Rp 2.000 antara kedua jenis bahan bakar tersebut. Dengan melihat harga yang lebih murah, apakah pemilik mobil beralih menggunakan mobil bermesin diesel?

Menangapi kondisi ini, pengamat otomotif Suhari Sargo mengatakan tidak segampang yang dipikirkan.

"Belum akan terjadi. Segmentasi pasar (antara mobil bensin dan solar) tidak berubah," yakin Suhari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, rencana pemerintah yang terus menaikkan harga BBM di pasar minyak Indonesia tidak membuat masyarakat Indonesia lantas beralih ke mobil diesel (solar).

Soalnya volume mobil diesel saat ini masih cukup kecil, dan belum tersedia di semua model mobil seperti sedan, hatchback dan mobil city car. Mobil diesel banyak digunakan oleh mobil jenis SUV.

"Salah satu contoh. Mobil diesel saat ini banyak kendaraan jenis SUV kan. Dan tidak semua orang mau ke SUV. Lagi pula SUV diesel itu banyak dipakai di perusahaan, di perkebunan," ujarnya.

Suhari menjelaskan kebijakan tersebut bisa dipastikan hanya akan menurunkan penjualan kedua jenis mobil tersebut, namun itu pun hanya berlaku sementara.

"Segmentasi pasar tidak berubah. Volumenya saja, masing-masing akan turun gara-gara kenaikan harga BBM dan itu pelemahan ekonomis," tandasnya.

Mengutip data dari Society of Indian Automobile Manufacturers (SIAM), pada 2012-2013 penjualan kendaraan diesel meningkat 35%, sementara untuk kendaraan berbahan bakar gasoline turun 15%.

Akibatnya, kebijakan tersebut menjadi tidak tepat sasaran dan pengeluaran anggaran India untuk subsidi untuk bahan bakar terus membengkak. Disamping itu, dari sisi lingkungan hidup, pemakaian bahan bakar diesel yang semakin besar, tingkat polusi juga semakin terasa, terutama di daerah perkotaan.

Kini negara tersebut tengah menghadapi dilema karena di satu sisi tuntutan untuk mengurangi subsidi bahan bakar diesel dan polusi udara terus menguat, di sisi lain industri otomotif dan transportasi negara tersebut sudah sangat tergantung pada bahan bakar diesel.

"Pemerintah jangan membedakan pemberian besaran subsidi untuk solar dan premium. Jangan dibedakan, sama rata saja baik solar maupun premium yakni Rp 6.500 per liter," kata Pengamat Energi, Pri Agung Rakhmanto.

Untuk mengatasi tersebut, pemerintah India mulai menekan subsidi untuk bahan diesel sehingga perbedaan (gap) harga antara gasoline dan solar terus diperkecil.
(ddn/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads