Ada 2 tipe mobil Esemka yang akan diluncurkan, yakni Esemka Rajawali yang mampu menampung 7 orang penupang dan Esemka Bima yang merupakan tipe pikap.
Menanggapi hal itu, pengamat otomotif, Suhari Sargo, mengatakan Esemka harus bisa berkaca pada pengalaman mobil-mobil Jepang saat pertama kali masuk ke Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi 10 tahun kedepan apa yang terjadi, mobil-mobil Jepang mulai merangkak naik dan berhasil mengalahkan peredaran mobil Amerika dan Eropa di Indonesia.
"Esemka harus bisa belajar dari mobil Jepang. Ini tugas berat untuk Esemka karena harus membangun image kepada masyarakat Indonesia," tutur Suhari Sargo, saat berbincang dengan detikOto melalui sambungan telepon, Sabtu (10/11/2012).
Lebih lanjut, meski Esemka kabarnya banyak dipesan oleh pihak pemerintah, itu bukan jaminan Esemka bisa menjadi sukses ke depannya. Dari situ harus bisa belajar membangun jaringan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat Indonesia.
"Esemka juga harus bisa membuktikan mutu dan kualitasnya. Masalahnya kalau benar harganya Rp 140 sampai Rp 150 jutaan, Esemka harus bersaing dengan mobil-mobil yang sudah memiliki nama di pasaran," imbuhnya.
Selain itu, tugas Esemka juga masih berat kedepannya. Jika ingin menjadi mobil nasional harus memilirkan semua komponen dirakit di Indonesia.
"Kalau mau jadi manufaktur ya harus benar-benar produk itu dilokalkan semuanya dan itu investasinya sangat besar," tutupnya.
Sebelumnya Esemka sudah didekati pabrikan Jerman untuk bekerja sama.
(ady/ddn)












































Komentar Terbanyak
Menlu Sugiono Ungkap Alasan Presiden Prabowo Bawa Maung di KTT ASEAN Filipina
Duh! Ketua DPRD Naik Moge Nggak Pakai Helm
Wacana KDM Hapus Pajak Kendaraan-Diganti Jalan Berbayar: Biar Adil