Penegasan tersebut disampaikan oleh Vice Chairman of the Board Toyota, Takeshi Uchiyamada, di hadapan wartawan dari berbagai negara yang menghadiri Toyota Environmental Technilogical Presentation di Odaiba Mega Web, Tokyo, Senin (24/9/2012).
Dalam kesempatan tersebut Uchiyamada, dua tahun yang lalu, di tempat yang sama dirinya mengatakan bahwa pembicaraan mengenai dunia otomotif kedepan akan selalu fokus pada tema kendaraan ramah lingkungan. Hal itu sejalan semakin melambungnya harga minyak fosil semakin timbulnya kesadaran pada publik tentang dunia satu yang harus diselamatkan daro polusi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari berbagai terobosan yang dilakukan Toyota tersebut, hingga saat ini masih dilakukan berbagai penyempurnaan dengan mendengarkan banyak masukan dari konsumen. Selain penyempurnaan kualitas, Toyota juga sedang berusaha menekan biaya produksi agar mampu bersaing dengan kendaraan konvensional, karena memang selama ini kendaraan ramah lingkungan ini biayanya jauh tinggi.
"Karena kendaraan ramah lingkungan ini sudah menjadi tuntutan kedepan, tentu saja akan banyak produsen lain yang akan memproduksinya. Tapi Toyota optimis dengan pasar ini, karena kami adalah pionir dalam hal ini. Karena itulah kami merasa Toyota yang akan memiliki pengalaman paling matang di bidang kendaraan ramah lingkungan," lanjutnya.
Karena itulah Toyota tak tanggung-tangung dalam mempersiapkan produk yang akan diluncurkan. Untuk mobil jenis hibryd saja, dari saat ini hingga tahun 2015 mendatang, Toyota telah merancang akan memproduksi 21 model hybrid yang baru.
Tentu saja, langkah Toyota yang yakin itu bercermin dari keberhasilan mobil hybrid yang telah dikeluarkan sebelumnya. Prius misalnya, mobil hybrid keluaran Toyota ini sejak generasi pertama hingga generasi ketiga saat ini diklaim sebagai kendaraan hybrid yang menduduki top label di Asia, Amerika, maupun Eropa.
"Sejak awal saya sudah yakin bahwa mobil berteknologi hybrid akan disambut hangat di pasar. Tapi ternyata lebih cepat. Saat ini 45 persen kendaraan di Jepang adalah kendaraan hybrid. Dan dalam waktu singkat, saat ini hybrid telah mencapai 10 persen dari seluruh penjualan produk Toyota di seluruh dunia," ujar chief enginer Prius generasi pertama tersebut.
Toyota, kata Uchiyamada, tidak pernah membuat target penjualan segala macam produknya, termasuk produk kendaraan hybrid. Namun secara pribadi Uchiyamada membuat perhitungan kedepan kendaraan hybrid akan mencapai 30 persen dari seluruh penjualan produk Toyota.
Lalu bagaimana dengan pasar kendaraan low cost and green car (LCGC) atau mobil irit dan ramah lingkungan ini? Uchiyamada menegaskan jika kendaraanLCGC diharapkan untuk segera dipakai di Indonesia maka harus ada peran langsung Pemerintah untuk membantu mengurangi beban konsumen, seperti yang dilakukan Pemerintah Jepang. Hal ini mengingat harga mobil LCGC yang masih relatif tinggi.
"Kita lihat nanti sejauh mana peran kebijakan Pemeritah (Indonesia) untuk membantu penggunaan kendaraan LCGC. Insentif yang diberikan oleh Pemerintah seharusnya tidak diberikan kepada produsennya karena itu nanti akan menjadi persoalan berikutnya. Insentif itu sebaiknya diberikan kepada konsumen atau pembeli, karena memang saat ini harganya masih cukup mahal," ujar dia.
(mbr/ddn)










































