'Mobil Listrik Ahmadi Idealnya Diberi Insentif'

'Mobil Listrik Ahmadi Idealnya Diberi Insentif'

- detikOto
Senin, 16 Jul 2012 15:07 WIB
Mobil Listrik Ahmadi Idealnya Diberi Insentif
Dasep Ahmadi dengan city car listrik buatannya
Jakarta - PT Sarimas Ahmadi Pratama yang memproduksi mobil listrik Ahmadi mengharapkan subsidi dari pemerintah. Jika disubsidi, harga kendaraan listrik Dasep akan semakin terjangkau. Produksi massal mobil listrik ini akan dimulai tahun depan.

"Idealnya, diberi subsidi dan diskon oleh pemerintah guna mengurangi beban konsumen," kata Dasep kepada detikOto di kantor BPPT Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (16/7/2012).

Menurutnya pemerintah harus peduli pada kendaraan-kendaraan ramah lingkungan. "Kalau pemerintah care maka mobil ini akan sukses," ujar lulusan ITB ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dasep menjelaskan biaya operasional produksi mobil listrik cukup besar sehingga itu bakal dibebankan ke konsumen. Yang terbesar adalah impor baterai, inverter, motor listrik yang mencapai 10 persen. Jika itu dihilangkan maka mengurangi beban produksi.

"Hilangkan pajak bea masuk jadi 0 persen itu lebih baik, sudah menghilangkan cost," ucapnya.

Ia menambahkan jika industri lainnya disubsidi mengapa PT SAP tidak. Soalnya masyarakat Indonesia menurutnya harus mendapat keadilan yang sama.

"Subsidi harus sama, dan begitu kalau keadilan sama jadi semuanya berkembang," ucapnya.

Menurut Dasep pemerintahan di sejumlah negara maju sudah berani mensubsidi industri otomotif, dan mengapa Pemerintah Indonesia tidak?

"Seperti di AS mencapai Rp 70 juta. Berharap subsidi itu potongan harga kendaraan," harapnya.

Kendati demikian Dasep berkeyakinan perusahaannya bakal memproduksi sendiri komponen-komponen yang selama ini masih impor. Seperti engine dan transmisi. Namun ke depannya ia coba memproduksi sendiri.

"Impor motor listrik dari Amerika. Transmisi masih dari Asia, tapi saya yakin bisa bikin sendiri transmisi dan engine saat nanti, jadi kita tidak bergantungan pada luar. Saat ini lokal konten mobil tersebut masih 50 persen," tutup Dasep.

(ikh/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads