Sebagai sebuah ibukota yang meliputi pusat ekonomi dan pusat pemerintahan Jakarta memang menjelma menjadi kota tersibuk di Indonesia. Kemacetan pun menjadi menu sehari-hari warga Jakarta.
Tapi bagaimana kondisi lalu lintas Jakarta sebenarnya? Ini data dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang tercetus dalam seminar Intellegent Transport System di Hotel Pullman, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (28/6/2012):
- Jakarta yang merupakan kota tersibuk di Indonesia dalam sehari tercatat ada 21,9 juta perjalanan yang melintasinya.
Sayangnya, 70 persen atau sekitar 15,3 juta perjalanan yang dilakukan warga Jakarta dan sekitarnya itu masihlah menggunakan kendaraan pribadi.
Maka tidak heran bila kendaraan pribadi berjejalan di jalanan ibukota.
- Di samping itu, menurut data 2011, di Jakarta saja ada 7,98 juta unit kendaraan bermotor dari berbagai jenis.
Dari jumlah itu, 98,9 persen atau 7,89 juta unit adalah kendaraan pribadi baik mobil maupun motor.
Kendaraan transportasi umum hanya mendapat porsi 1,1 persen dari total kendaraan yang ada di Jakarta. Persentase itu sama dengan 88.422 kendaraan saja.
Padahal dari puluhan juta perjalanan yang ada di ibukota kendaraan transportasi umum yang hanya 1,1 persen itu harus berkerja keras mengangkut 56 persen perjalanan yang ada, 3 persen diantaranya dilayani oleh kereta api Jabodetabek.
Sementara itu, jumlah kendaraan bermotor yang mencapai 98,9 persen dari total kendaraan bermotor yang ada, ternyata hanya melayani 44 persen dari total perjalanan yang dilakukan warga Jakarta dan sekitarnya setiap hari. Ini tentu mengkhawatirkan.
- Lalu ketika kita melihat kondisi jalan raya yang ada. Di Jakarta tercatat hanya ada 6.549 km jalanan dengan luas 42,3 km persegi yang harus menampung kendaraan-kendaraan tadi. Rasio jalanan di Jakarta hanyalah 6,4 persen dari total wilayah DKI Jakarta.
Pertumbuhan dan pembangunan jalan di ibukota pun dari data yang ada relatif sangat minim. Hanya ada 0,01 persen jalan yang tumbuh tiap tahunnya.
Berbanding terbalik dengan pertumbuhan kendaraan di ibukota yang rata-rata pertumbuhannya dalam 5 tahun terakhir mencapai 8,1 persen.
Alhasil, kemacetan pun jadi makanan sehari-hari. Akibatnya, waktu produktif tiap orang di Jakarta pun jadi berkurang.
- Selain itu, biaya atau kerugian terkait kemacetan menurut Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mencapai angka yang cukup gila, yakni Rp 45,2 triliun per tahun.












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Intip Garasi Gubernur Terkaya di RI yang Hartanya Tembus Rp 900 Miliar