Daihatsu Tidak Takut Citra Turun Gara-gara Recall

Daihatsu Tidak Takut Citra Turun Gara-gara Recall

Syubhan Akib - detikOto
Selasa, 29 Mei 2012 17:10 WIB
Daihatsu Tidak Takut Citra Turun Gara-gara Recall
Jakarta - Bagi banyak produsen mobil yang ada di Indonesia, kata 'recall' atau penarikan kembali masih menjadi kata yang tabu untuk diucapkan. Namun bagi Daihatsu, recall bisa menjadi tanda kalau produsen yang bersangkutan adalah produsen yang bertanggung jawab.

Karena itulah Daihatsu mau berkata jujur terkait adanya potensi masalah di tubuh dua model andalannya, Sirion dan Gran Max.

"Awalnya kita juga kaget, apa perlu kita pakai kata recall. Sepertinya kan seram ya. Tapi Bu Amel bilang (Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor Amelia Tjandra-red), pakai saja. Kalau pakai kata lain wartawan juga bakal pakai kata itu, jadi sama saja," ujar Marketing Division Head PT Astra International Tbk – Daihatsu Sales Operation (AI-DSO), Hendrayadi Lastiyoso.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Boleh disebutkan kalau kami, manajemen Daihatsu, selalu bersikap terbuka. Kalau recall, kami katakan recall. Kalau tidak ya kami tidak katakan apa-apa," tegas Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor Amelia Tjandra.

"Kalau kita akan gunakan kata recall karena kita produsen yang jujur dan terbuka. Seperti hari ini kita lakukan terhadap Gran Max dan Sirion. Kita pakai kata recall," imbuh Amelia.

"Padahal kalau merek lain untuk memperbaiki masalah-masalah kecil seperti ini tidak pernah pakai kata recall, kemungkinan pakai kata 'special service campaign' atau kata lain yang kelihatannya keren," ujar Hendrayadi.

"Tapi setelah kita perhatikan masalah, kita sadar, ini kan baru potensi, tapi belum terjadi. Jadi ini sebenarnya bagus. Sebab ini menunjukkan kalau kami adalah produsen yang jujur dan terbuka. Kami juga produsen yang peduli pada konsumen dan produk yang kami produksi," lugasnya.

Lebih lanjut dia pun menjelaskan kalau efek dari kampanye recall yang dilakukan Daihatsu terkait adanya potensi masalah kecil di Sirion dan Gran Max pastilah ada. Tapi disini dia menekankan kalau ini adalah bentuk tanggung jawab Daihatsu sebagai produsen yang jujur.

Sementara Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor Amelia Tjandra mengatakan kalau kampanye ini diprediksi tidaklah akan mengganggu penjualan kedua produk tersebut.

Karena Daihatsu Indonesia mennurut Amelia berkaca pada Jepang dan Malaysia dimana kedua produk itu juga ikut di-recall tapi ternyata tidak berimbas pada penjualannya.

"Di Malaysia, Sirion bernama Myvi. Mobil itu sebulah bisa laku 9.000 unit dan tetap stabil. Sejak awal tetap jadi market leader," ujarnya.

Sementara Gran Max di Jepang yang menggunakan merek Daihatsu dan Toyota juga memiliki banyak penjualan meski pernah di-recall.

"Itu karena tujuan kita baik. Di Indonesia produksi Gran Max bisa sampai 5.000 per bulan dan itu pun masih tetap inden," lugasnya.

Daihatsu sendiri hari ini baru saja menarik puluhan ribu Gran Max dan Sirion. Total ada 51.930 unit Sirion dan Gran Max yang ditarik terdiri dari 36.988 unit Gran Max Pick Up (GM PU) yang diproduksi sejak tahun 2007 sampai dengan 15 Oktober 2010 dan sebanyak 11.715 unit Gran Max Mini Bus (GM MB) dan Blind Van (GM BV) produksi tahun 2007 sampai dengan 23 Oktober 2008.

Sementara Sirion yang ditarik sebanyak 3.227 unit yang diproduksi sejak Januari 2008 – Maret 2011.

Daihatsu Gran Max sendiri ditarik karena ada kemungkinan munculnya potensi keretakan pada bagian dudukan ban cadangan yang terletak pada bagian belakang bawah kendaraan.

Seiring dengan bertambahnya usia pemakaian kendaraan apalagi jika kendaraan sering digunakan pada jalan yang kasar, pada kondisi terburuk dudukan ban cadangan dapat terjatuh sehingga dapat membahayakan pengendara lainnya.

Sementara Sirion menurut hasil pengecekan Daihatsu ditemukan adanya tetesan air yang keluar dari selang pembuangan air A/C yang menetes mengenai bagian luar steering rack.

Dalam jangka panjang hal ini berpotensi menimbulkan karat dan pada kondisi terburuk fungsi steering rack dapat terganggu. Namun Daihatsu mengklaim kalau sejak diperkenalkan di Indonesia tahun 2008 hingga saat ini, tidak pernah ditemukan kerusakan steering rack karena karat.

(syu/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads