"Saya tidak kira ini. Awalnya kita hanya ngajarin anak SMK Trucuk. Kita tidak sengaja ternyata seluruh dunia tahu, bahkan sampai uji emisi ke Jakarta," kata Sukiyat sambil terheran-heran.
Seharusnya menurut Sukiat jika pada akhirnya akan seperti ini, bengkel yang dipimpinnya seharusnya bisa lebih baik lagi membuat Esemka. Ia menilai Esemka belum sebaik yang ia harapkan jika harus diproduksi massal. "Kalau tahu seperti, harusnya hasilnya lebih baik lagi," ucapnya.
Sukiat awal mulanya hanya menyediakan tempat untuk anak SMK merakit sejumlah komponen dari mobil lain. Namun Kiat Motor sendiri menyediakan casis dan bodi. Sementara komponen lainnya beli di toko.
Hasilnya lumayan baik, setidaknya 15 SMK di Solo tertarik dengan program yang bekerjasama dengan Depdiknas itu. Untuk 1 sekolah, bengkel Kiat Motor mewajibkan para sekolah membayar dana Rp 4,5 juta untuk 3 bulan.
1 Sekolah bisa diwakili 2 siswa dan 1 guru. Di sana para siswa tidak langsung membuat mobil, melainkan belajar membuat miniatur mobil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anak-anak pandai kok, 15 SMK di sini mengirimkan 2 anak 1 guru dan belajar dengan pak Kita. Sebelum buat mobil mereka disuruh buat miniatur sendiri," pungkasnya.
(ddn/ddn)













































Komentar Terbanyak
Mobil Listrik China Murah-murah, Kok Suzuki Pede Jual e Vitara Rp 755 Juta?
Heboh Pajak Mobil-motor di Jateng Tiba-tiba Naik Drastis, Begini Penjelasannya
Bikin Pajak Mobil-motor di Jateng Mahal, Segini Tarif Opsen PKB