Presiden Direktur PT Toyota-Astra Motor (TAM), Johnny Darmawan menjelaskan pula bahwa ini adalah saat yang tepat untuk Indonesia untuk maju dan menawarkan diri sebagai production base di kawasan Asia Tenggara.
Sebab bencana yang terjadi di Thailand menurut Johny adalah cermin untuk semua dimana kini produksi tidak boleh ada di 1 negara agar bila 1 negara bermasalah, negara lain bisa menutupinya sehingga proses distribusi tidaklah terganggu. "Semua brand harus punya 2 kaki di Asia Tenggara," tegasnya di Hotel Mulia, Jakarta (28/10/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka tidak berproduksi selama lebih dari dua minggu ini, saya mendengar saja dari sumber di Jepang yang mencari kemungkinan alternatif untuk relokasi tapi itu kan bukan keputusan yang mudah yah," kata Hidayat di Istana Negara, Jakarta, Kamis (27/10/2011).
Johnny mengakui kalau banjir yang melanda Thailand juga mempengaruhi kegiatan Toyota di Indonesia. "Pengaruh ke Toyota ada. Tapi yang paling parah Honda. Yang lain kenanya komponen lokal. Pabrik Toyota tidak ada yang kena sama sekali, cuma pasokan komponen kesana (pabrik) yang tidak ada," jelasnya.
"Hikmahnya ada risk management. Janganlah pasokan dari satu negara saja. Ini adalah golden opportunity untuk Indonesia. Kalau Indonesia bisa siapkan semua, infrastruktur dll pasti bisa terwujud," pungkasnya.
Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM), Joko Trisanyoto mengakui kalau dalam beberapa waktu terakhir suplai dari Thailand agak terganggu. Toyota menurutnya masih menjual secara completely built-up (CBU) tipe-tipe mobil yang di produksi di Thailand seperti Camry, Vios, Hilux, Corolla dan Yaris.
Dengan banjir tadi maka praktis kegiatan produksi dihentikan. Menurut rencana, Toyota akan menghentikan produksi di pabrik mereka di Thailand hingga tanggal 29 Oktober.
"Suplai akhir-akhir ini sudah mulai terasa (tersendat)," jelasnya.
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
Nasib! Harga BBM Naik, Mobil Listrik Malah Nggak Gratis Pajak Lagi
Isi Surat Edaran Mendagri, Minta Gubernur Se-Indonesia Bebaskan Pajak EV
Kenapa BGN Beli Motor Listrik yang Belum Jelas Dealer-nya?