Jumat, 06 Mar 2020 21:06 WIB

Indonesia Bisa Jadi Raja Diesel dengan Biodiesel dan Ekspor Ikutan Moncer

M Luthfi Andika - detikOto
Fokus Menuju Euro4 Ilustrasi Euro4 Foto: Luthfy Syahban
Jakarta -

Eropa telah menunjukkan sikap tegas terhadap peredaran kendaraan bermesin diesel di benua biru. Tentu ini bukan tanpa sebab, soalnya mesin diesel kerap dinilai memiliki emisi yang lebih buruk dibandingkan mesin bensin.

Kendati begitu, beberapa pabrikan di Indonesia tetap ngotot tetap mempertahankan mesin diesel mereka. Terlebih saat ini pemerintah sudah mulai serius untuk bisa menerapkan B30, dan B30 jadi harapan baru bagi para pabrikan otomotif agar mesin diesel mereka bisa diterima.

Harapan baru para pabrikan yang tetap memproduksi mesin diesel yang mampu minum biodiesel bukan tanpa alasan, Karena biodiesel ini tidak mengandung sulfur seperti solar. Artinya mesin diesel masih bisa diterima oleh pencinta otomotif Indonesia dan dunia.

"Kendaraan komersial bahan bakarnya biofuel akan menjadi tren dunia. (Eropa) Itu dulu karena mereka cheating. Kalau lihat sekarang di google yang naik itu penggunaan sintetik fuel, biofuel karena sustainable dan karbon emisi sangat rendah," kata Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan, Putu Juli Ardika di GIICOMVEC 2020, Jakarta Convention Centre Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2020).

Bahkan menurut Putu, saat Eropa mulai meninggalkan mesin diesel akan membuka peluang Indonesia menguasai segmen ini. diawali dengan memperluas pasar ekspor diesel di kawasan Asia.

"Kalau Eropa lepaskan diesel kita jadi rajanya. Kalau kita bisa kembangkan Asia. Kalau kita bisa hasilkan ekspor ke sana.

Bak gayung bersambut, pabrikan asal Jepang Isuzu menyatakan masih merakit kendaraan komersial bermesin diesel dan optimistis melihat perkembangan mesin diesel. Terlebih Eropa mulai mengembangkan mobil diesel berbahan bakar nabati.

"Jadi kalau kita lihat dari sudut pandang Isuzu di Indonesia kita masih berada di level teknologi euro 2, beberapa negara Eropa diesel Euro 5 dan 6 jadi sudah masuk kategori super ultra low emission vehicle. Di Eropa sudah ada B100 yang udah bisa masuk Euro 6. Jadi untuk Indonesia saya rasa masih cukup panjang sampai discontinue mengingat teknologi berkembang," tutur Department Head Prototype dan Test Department, Harmoko Setiawan di kesempatan yang sama.

Harmoko pun tak menampik kendaraan listrik sebagai alternatif lain. Namun untuk kebutuhan saat ini, belum memadai kebutuhan industri.

"Kita tahu EV semakin gencar tp untuk komersial menurut kami masih perlu waktu mendapatkan desain yang cukup reliable untuk truk," tutupnya.

Standar Euro 4 Buat Moncer Ekspor Kendaraan Diesel

Soal ekspor kendaraan komersial, salah satu hambatan dan keterbatasan ekspor kendaraan komersial buatan Indonesia adalah standar emisi. Beberapa negara khususnya Eropa sudah memiliki standar emisi lebih tinggi sedangkan Indonesia masih produksi kendaraan komersial bermesin diesel berstandar Euro 2.

Hal ini juga dikarenakan Indonesia sendiri saat ini masih menganut standar Euro 2 untuk diesel. Namun tak lama lagi standar itu akan naik jadi Euro 4 mulai April 2021. Aturan ini tentu harus diikuti oleh produksi mobil komersial diesel Indonesia.

"Sebenarnya sudah ditentukan pemerintah bahwa tahun depan April masuk Euro 4. Kalau pemerintah sudah mengartakan, automaker pasti akan mengikuti, ujar Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan, Putu Juli Ardika di GIICOMVEC 2020, Jakarta Convention Centre Senayan, Jakarta Pusat.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "'Bloodshot', Mungkin Cuma Bisa Dinikmati Fans Vin Diesel"
[Gambas:Video 20detik]
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com