Toyota menyebut, seri Concept-i ini mewujudkan masa depan mobilitas masyarakat dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Konsep-konsep mobil ini mampu memahami pengemudi sehingga secara efektif membuat mobil dan pemiliknya menjadi partner.
"Mobil menawarkan mobilits, kenyamanan, dan kesempatan untuk melihat hal yang tidak diketahui. Mobil menciptakan nilai, mempesona orang, dan meningkatkan kualitas hidup kita. Mobil telah dicintai seperti anggota keluarga," kata Project General Manager EV Business Planning Departement Toyota Motor Corporation, Makoto Okabe, seperti dilaporkan reporter detikOto Rangga Rahadiansyah dari Tokyo, Jepang, Rabu (25/10/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kembali ke seri Concept-i, Toyota telah membuat seri konsep ini dengan tujuan untuk menjadi mobil tercinta era baru. Lebih dari sekadar mesin, deretan kendaraan masa depan ini disebut bisa menjadi partner.
"Lewat evolusi mobil sebagai mitra, tujuannya adalah untuk berinovasi mobilitas, kesan orang, dan meningkatkan kualitas hidup. Kami ingin ini menjadi aisha (mobil tercinta) untuk era baru," ujar Okabe.
Teknologi inti yang umum untuk seri Toyota Concept-i adalah teknologi yang memahami orang. Teknologi ini menerapkan AI untuk mengenali emosi dan memperkirakan preferensi pengemudi. Teknologi yang memahami orang dan teknologi otonom dikombinasikan untuk mengarahkan pengemudi ke tempat yang aman dan memberikan ketenangan pikiran. Bahkan, teknologi kendaraan ini juga bisa mengantisipasi perasaan pengemudi sehingga memberikan pengalaman Fun to Drive.
Konsep ini disebut Toyota sebagai 'Agen' yang mengerti orang. Dua teknologi AI digunakan untuk mencapai kemampuan ini.
"Teknologi pertama adalah pengenalan emosi dan estimasi tingkat kewaspadaan. Dengan memanfaatkan teknologi pembelajaran yang dalam, sistem ini memperkirakan kondisi pengguna dengan membaca ungkapan, bahasa tubuh, dan nada suara secara kompleks," jelas Okabe.
Teknologi kedua, lanjutnya, adalah perkiraan preferensi individu. Ini memperkirakan preferensi individu dengan mengekstrak karakteristiknya dari informasi layanan seperti Facebook, Twitter, dan GPS.
"Dengan memahami kondisi pengemudi, mobil mengarahkan pengemudi ke kondisi yang lebih baik. Misalnya saat pengemudi kesal, mobil menggerakkan kursinya dengan keceepatan lebih lambat daripada pernapasan pengemudi agar pengemudi bernafas lega dan rileks," ujarnya. (rgr/ddn)












































Komentar Terbanyak
Biar Dapet Rp 10 Juta/Bulan, Ojol Harus Ambil Berapa Orderan?
Perpanjang STNK Tahunan dan 5 Tahunan, Duitnya Buat Apa?
Permintaan Maaf Pemobil yang Konvoi Zig-zag di Tol Becakayu