Ini Syarat Pemerintah Agar Industri Komponen Lokal Bisa Tumbuh

Ini Syarat Pemerintah Agar Industri Komponen Lokal Bisa Tumbuh

Khairul Imam Ghozali - detikOto
Rabu, 29 Mar 2017 15:48 WIB
Ini Syarat Pemerintah Agar Industri Komponen Lokal Bisa Tumbuh
Foto: M Luthfi Andika
Jakarta - Komponen kendaraan masih banyak yang harus diimpor dari luar Indonesia. Walaupun tidak sedikit pula yang sudah menggunakan komponen lokal untuk produknya.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE), Kementerian Perindustrian (Kemenperin), I Gusti Putu Surayawirawan mengatakan, industri komponen lokal akan tumbuh dan berkembang, jika pasar tumbuh.

"Sekarang yang dilakukan pemerintah adalah bagaimana menumbuhkan itu semua. Jadi kita tidak bisa mematok target, komponen harus ada
sekian, kalau market enggak tumbuh, enggak ada gunanya juga," ujarnya kepada wartawan, di sela-sela pameran INAPA di JI Expo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (29/3/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Putu menjelaskan, jangan sampai industri di luar Indonesia mengambil alih proyek-proyek yang sedang dijalankan oleh pemerintah, demi
mengembangkan komponen lokal di Indonesia.

"Harus negeri kita yang harus diberikan kesempatan terlebih dahulu. Tapi dengan catatan pengadaannya jangan mendadak, harus ada perencanaan. Jangan misalnya tiga bulan mau dipakai baru ditender sekarang, akhirnya yang masuk produk impor," katanya.

Lebih lanjut Putu menjelaskan, yang harus dipersiapkan demi perkembangan industri komponen lokal adalah, kebutuhan pada pengerjaan
yang sudah terencana satu atau dua tahun ke depan.

"Kebutuhan satu-dua tahun ke depan ini apa, dengan adanya kebutuhan itu, industri komponen yang ada, baik itu support yang ke otomotif,
mereka dengan mudah bisa switch ke sana, karena umumnya barang yang dibutuhkan itu itu juga, pengerjaan logam. Apa sih pengerjaan logam?
paling stampling, metal cutting, peleburan, pasti gitu-gitu kerjaannya," tuturnya

Jadi menurutnya, semua hal termasuk perkembangan industri komponen lokal harus mempunyai perencanaan yang matang. "Tapi kalau misalnya
tiga bulan baru butuh, tiga bulan tender, yang tender yang punya stok, kami hanya ikut mengawasi, karena yang belanja bukan kami," pungkas
Putu. (khi/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads