"Akibat tuduhan itu, banyak konsumen terutama pabrikan (mobil) di luar negeri yang menolak atau tak meminati lagi ban-ban produksi Indonesia," tutur Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI), Azis Pane, saat ditemui detikOto di arena Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2015, ICE, BSD, Tangerang Selatan, Selasa (25/8/2015).
Menurutnya, porsi pasar ekspor selama ini mencapai 85 persen dari total penjualan ban. Artinya, sekitar 40 - 45 juta unit ban yang diekspor saban tahunnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi seperti itu tentu semakin menyulitkan industri ban. Soalnya, pasar di dalam negeri juga mengalami penurunan.
"Kalau di dalam negeri, di segmen pasar replacement (penggantian) ban, penjualan turun 20 persen. Begitu pun dengan di segmen untuk infustri atau original equipment manufacturer (OEM)," kata Azis.
Padahal, dengan turunnya ekspor maupun penjualan di pasar domestik itu sangat berpengaruh terhadap perekonomian nasional.
Bahkan bagi para petani dan perusahaan perkebunan, karena permintaan karet menurun. Selama ini ban buatan Indonesia banyak diekspor ke negara-negara Timur Tengah, Eropa Timur, dan sejumlah negara-negara lain di kawasan Asia-Pasifik.
Azis menegaskan, jika saat ini industri Indonesia dituduh melakukan kartel dan cap tersebut melekat, maka untuk memulihkan kepercayaan konsumen atau pasar akan sangat sulit.
Oleh karena, APBI berusaha untuk membuktikan bahwa tuduhan itu tak benar. Salah satunya, dengan melakukan banding atas vonis bersalah telah melakukan kartel oleh pengadilan ke Mahkamah Agung.
(arf/ddn)












































Komentar Terbanyak
Habis Ngamuk Ditegur Jangan Ngerokok, Pemotor PCX Kini Minta Diampuni
Viral Lexus Berpelat RI 25 Potong Antrean di Gerbang Tol
Viral Pemotor Maksa Lawan Arah, Nggak Dikasih Lewat Malah Ngamuk!