Senin, 18 Feb 2019 20:35 WIB

Anggota Klub Moge dan Mobil Mewah Arogan Karena Mapan

Rizki Pratama - detikOto
Foto: Pasangmata Foto: Pasangmata
Jakarta - Citra klub motor atau mobil di jalan saat melakukan kegiatan riding masih terbilang buruk di mata beberapa masyarakat Indonesia. Pandangan ini muncul dari sikap arogan anggota klub yang terkesan mengeksklusifkan diri saat berada di atas satu aspal dengan pengguna jalan lain.

Seperti konvoi mobil Lamborghini di Denpasar, Bali, pada pekan lalu misalkan. Dikawal beberapa polisi, jalan Bypass Ngurah Rai 'dibersihkan' sehingga rombongan mobil mewah itu bisa lewat tanpa hambatan.

Menanggapi hal ini, Ikatan Motor Indonesia (IMI) melihat bahwa ada dilema pada para pengendara maupun pemilik kendaraan tersebut.


"Ini kondisi atau dilema motor besar (moge dan sejenisnya) itu cukup banyak. Problemnya adalah mereka memiliki ego yang tinggi karena kita tahu pemilik motor besar adalah orang yang mapan, mempunyai kedudukan, dan jabatan," ujar Sekjen IMI, Jeffrey JP saat di Kantor IMI, Manggarai, Jakarta Selatan.

Namun arogansi itu bisa dikendalikan tergantung siapa yang memimpin dan mengarahkan komunitas tersebut. Ketua komunitas baiknya bisa mengarahkan anggotanya untuk memberikan citra positif di mata masyarakat.

"Mengenai arogansi itu kembali pada ketua komunitas bagaimana ia mengarahkan secara positif anggotanya itu, kan akan merusak image mereka juga," lanjut Jeffrey.


Meskipun demikian, Jeffrey juga mengungkapkan bahwa saat ini sudah mulai jarang terlihat arogansi serupa jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. IMI sendiri berusaha terus mengarahkan anggotanya untuk menghilangkan citra geng motor yang dimaknai negatif.

"Kalau sekarang sudah berkurang, kalau dulu memang seperti jalan sudah seperti dibeli sendiri. Kita sekarang juga sedang menggalang klub motor untuk menghilangkan image geng motor," tutupnya. (rip/ruk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed