ADVERTISEMENT

'Beli Motor Dulu Belajar Belakangan'

- detikOto
Rabu, 12 Jan 2011 11:31 WIB
Jakarta - Saat ini memiliki motor sudah sedemikian mudah. Bahkan sekarang ada fenomena yang mengenaskan yakni kebiasaan untuk 'beli motor dulu baru belajar mengendarai motor'.

"Bila dulu kita belajar dulu baru beli motor. Sekarang semua sudah beda. Orang beli motor dulu baru belajar. Kalau kita lihat bahkan banyak anak yang sudah berani pakai motor. Padahal gedean motornya dibanding yang pakai," ungkap General Manager Promotion and Motorsport PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI), Paulus S Firmanto di kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (12/1/2011).

Hal ini tentu sangat berbahaya. Apalagi pengetahuan tentang safety riding terutama di kalangan anak sekolah masih sangat minim.

Mindset 'naik motor itu mudah' menurut Paulus harus segera dihapus. Naik motor tidak seperti naik sepeda. Naik motor perlu persiapan yang tidak mudah karena menyangkut kelengkapan, ketrampilan dan kebudayaan berkendara agar keamanan berkendara dapat terjaga.

"Anak sekolah sekarang banyak yang tidak tahu rambu lalu-lintas. Tugas kita semua untuk mengawasi keluarga kita," imbuh Paulus.

"Tapi pak Paulus harus melihat ulang iklannya. Semoga iklan yang memperlihatkan motor yang lagi ngebut harap dikurangi. Kita kan tidak ingin anak-anak memandang kalau naik motor ngebut itu gagah," kelakar Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono.

Pemikiran 'naik motor itu mudah' menurut penulis buku 'Hiruk Pikuk Bersepeda Motor', Edo Rusyanto melahirkan banyak kecelakaan. Data Kepolisian RI menyebutkan, keterlibatan sepeda motor mencapai sekitar 70 persen dari total kasus kecelakaan lalu lintas jalan.

"Kecelakaan di sepeda motor makin menggila. Dan telah menimbulkan banyak korban. Korban kecelakaan lalu lintas di tahun 2009 ada 18 ribu nyawa melayang. Di tahun 2010 polisi mengklaim angka itu menurun jadi 10 ribu," ujar Edo di tempat yang sama.


(syu/ddn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT