Touring BM2C, Menembus Hutan Sancang Nan Angker

Touring BM2C, Menembus Hutan Sancang Nan Angker

- detikOto
Rabu, 09 Jun 2010 15:53 WIB
Touring BM2C, Menembus Hutan Sancang Nan Angker
Jakarta - Biker is a biker. Salah satu pepatah yang menggambarkan jika biker suka menghabiskan waktu di atas sepeda motor, berkelana tanpa mengenal waktu dan
tempat.

Seperti yang dilakukan segerombolan penunggang kuda besi yang tergabung dalam Komunitas motor BM2C (Brigade MotoMania Community) ketika menunjukkan cintanya terhadap roda dua.

Komunitas motor BM2C melakukan perjalanan ke Pantai Karangtawulan, Tasikmalaya, Jawa Barat. Sebanyak 6 sepeda motor berangkat kala itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama perjalanan, BM2C berhasil menempuh rute Ciledug- Parung - Bogor - Puncak - Cianjur - Pasir Hayam - Cibeber Sukamaju - Sukamaju Sukanegara
- Cidaun - Sindangbarang - pantai Jayanti - pantai Rancabuaya - pantai Santolo Garut - Pameungpeuk - Leuweung Sancang - Cipatujah - pantai Cikalong - pantai
Sindangkerta - pantai Karangtawulan.

Di saat semua orang baru menutup mata dan berkelana di alam mimpi atau tepat pukul 00.10 WIB, ketika itulah BM2C memulai perjalanan dari basecamp BM2C, Inpres 19 Ciledug - Tangerang menuju lokasi pantai Karangrtawulan. Cuaca cukup cerah saat kami melaju menuju lokasi pertama yaitu Desa Sindang Barang Cianjur yang merupakan tujuan awal untuk melakukan ekspedisi susur pantai BM2C.

Berbekal semangat petualang, secarik peta Pulau Jawa, dan perlengkapan biker lainnya atau perlengkapan mulai dari Sepatu, helm full face (SNI) dan balaclava, jaket BM2C yang dilapisi rompi dan tidak lupa Decker (pelindung lutut dan sikut).

Road Chapter dipegang oleh bro Roni dengan Honda Vario biru dan rompi yang bagian punggungnya gemerlap dengan nyala lampu putih sebagai panduan, diikuti oleh bro Iwan dengan Yamaha V-ixion Hitam yang hingar bingar dengan klakson barunya, diikuti pula oleh bro Dede dengan Yamaha V-ixion biru yang lincah, di belakangnya terdapat bro Brury yang setia dengan Yamaha Vega dan sebagai sweeper adalah bro Freddy selalu siaga dengan Yamaha Scorpio yang perkasa dan bro Ucup sebagai boncenger dengan lampu patrolinya. Kami bersama meluncur menuju Cianjur, melewati Parung - Bogor - Puncak dengan aman dan leluasa karena jalanan saat itu sepi.

Setelah sekitar 2,5 jam kami berpacu melawan dinginnya jalanan Bogor dan Puncak, sampailah di perempatan Cianjur sekitar pukul 02.30 WIB.

Kami berhenti sejenak untuk melihat posisi pada peta dan rute yang akan dituju, kami pun sempat bertanya pada sebuah kedai kopi untuk lebih meyakinkan yang akhirnya kami memperoleh informasi bahwa rute terdekat dan bagus untuk dilalui menuju Sindang Barang adalah berbelok ke kanan dari arah perempatan (bundaran) dimana kami berada, melalui Terminal Pasir Hayam Cianjur.

Bergegas kami melanjutkan kembali perjalanan. Rupanya kondisi jalanan di sana cukup lebar dan bagus untuk dilalui sampai akhirnya memasuki pegunungan Cibeber
di Desa Sukamaju, dimana kondisi jalanan tidak terlalu besar, namun cukup licin berliku-liku dan berpasir sehingga kami harus berhati-hati untuk menghindari
efek jalan yang licin (sliding).

Waktu baru menunjukkan pukul 3.30 WIB di pagi hari dan angka digital pada speedometer menunjuk 144 KM ketika kami berhenti di sebuah warung kopi yang masih buka, tepatnya di desa Sukamaju kecamatan Sukanegara Cianjur.

Hujan gerimis pun baru turun ketika semangkuk mie instan dan secangkir kopi kami lahap dengan nikmatnya untuk menghangatkan tubuh. Cukup lama kami beristirahat sampai tiba waktunya salat Shubuh di mesjid terdekat.

Sekiranya badan sudah fit kembali, dengan semangat yang menggelora kami melanjutkan perjalanan, disambut hujan gerimis dan kabut yang cukup tebal hingga membuat visor helm kami berembun, apalagi dengan kacamata bro Iwan yang ikut berembun pula hingga menghalangi jarak pandang.

Baru sekitar 20 menit kami berjalan di keheningan pegunungan dan jalanan yang berlubang, kami disuguhkan pemandangan yang sangat eksotis, dimana sebagian Desa Cianjur yang ada diantara lembah tertutup kabut pagi diwarnai dengan kilau matahari yang baru saja bersinar.

Tentu saja kesempatan ini tidak kami sia-siakan untuk didokumentasikan.

Setelah puas menikmati pemandangan yang jarang kami lihat tersebut, akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalan yang cukup terjal disertai lubang-lubang yang cukup dalam sampai akhirnya terjadi kecelakaan kecil yang dialami oleh bro Roni, namun tidak parah.

Belum lama kami berjalan, pesona alam Cianjur memaksa kami untuk berhenti dan menikmati indahnya air terjun yang terdapat di pinggiran jalan, bergegas kami mendokumentasikan tempat tersebut.

Akhirnya, sekitar pukul 9.45 WIB kami tiba di Sindang Barang, menurut informasi sepanjang jalan tepi pantai dari Sindang Barang sampai Garut, tidak terdapat SPBU sehingga beberapa motor dari kami yang cc-nya kecil mau tidak mau harus membeli premium eceran yang dijajakan penduduk di beberapa ruas jalan.

Ternyata tidak hanya motor yang minta diisi, perut kami pun minta diisi pula, sehingga kami memutuskan untuk beristirahat sekalian sarapan di sebuah RM Sederhana di
tepi Pantai Cidaun, yaitu sekitar 17 KM lagi menuju lokasi Pantai Jayanti dimana kabarnya menjanjikan pantai yang eksotis.

Usai istirahat makan yang cukup lama hingga membuat beberapa orang personil tertidur, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju pantai Jayanti menyusuri
desa Cidaun.

Saat melewati perkampungan nelayan, kami sempat berhenti di sebuah jembatan yang melintasi muara cukup lebar dimana terlihat beberapa orang penduduk membuat petak-petak bendungan kecil di tengah sungai yang dangkal dengan pasir dan bebatuan kecil untuk menjaring ikan-ikan kecil yang dapat mereka jual.

Rupanya sungai yang jernih itu adalah sumber kehidupan mereka, karena ada beberapa penduduk juga terlihat sedang mandi, mencuci baju dan bahkan yang membuat kami takjub adalah mencuci motor di tengah sungai.

"Objek Wisata Pantai Jayanti", tulisan itulah yang pertama kali kami lihat ketika melewati sebuah gapura, berarti kami sudah memasuki kawasan wisata Pantai Jayanti pada sekitar pukul 12.10 WIB. Tidak ada tiket masuk yang harus kami bayar.

Dari arah pintu masuk terdapat dua jalan bercabang, ke kiri ke arah pantai dan ke kanan ke arah resort dan cafe. Kami memutuskan ke arah pantai dengan batu karang dan pasir yang berwarna hitam.

Sejenak kami bermain dengan ombak dan mengambil dokumentasi tempat tersebut.

Pantai Jayanti cukup landai meskipun tidak lebar dengan adanya beberapa batu karang di pasir membuat tempat tersebut eksotis ditambah ramainya para nelayan di penjuru pantai. Dari kejauhan terlihat semenanjung Ranca Buaya dimana itulah lokasi selanjutnya yang akan kami kunjungi.

Perjalanan dilanjutkan kembali menuju pantai Rancabuaya, Garut, rupanya di rute ini kami benar-benar diuji keahlian berkendara, dimana harus melewati jalanan
yang hanya terdiri dari batuan besar dan sebagian ruas jalan lainnya baru diratakan dengan batuan kerikil kecil, sehingga kami harus ekstra hati-hati untuk menghindari sliding.

Sekitar pukul 13.45 WIB kami tiba di Pantai Rancabuaya, setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 3 ribu (dewasa) dan Rp 1 ribu per motor, kami langsung disajikan pantai yang cukup nyaman dimana terdapat beberapa gazebo (saung bambu) yang teduh dan dilindungi pepohonan rindang, gazebo-gazebo tersebut memang sengaja dibuat oleh pemerintah setempat untuk disewakan dengan tarif sebesar Rp 5 ribu per jam.

Setelah menentukan gazebo yang kosong dan cukup nyaman, kami langsung merebahkan diri untuk menghilangkan lelah sambil menikmati semilir angin laut dan kelapa muda yang segar.

Dari Ranca Buaya kami berangkat kembali sekitar pukul 15.30 WIB menuju lokasi berikutnya, yaitu Pantai Santolo Garut, sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan pesisir pantai yang terlihat landai dan cukup membuat kami berdecak kagum, sampai akhirnya kami berhenti beberapa kali untuk berfoto dan merekam indahnya lokasi.

Akhirnya sampai juga di Pantai Santolo, tapi sayang kami tidak bisa melihat lebih banyak lagi karena tiba disana sekitar pukul 17.30 WIB sehingga hanya bisa menikmati temaram lampu dan hembusan ombak. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari lokasi bagus yang dapat didokumentasikan.

Adalah sebuah Stasiun Peluncuran Roket LAPAN yang menarik perhatian kami untuk berfoto-foto. Mengingat waktu Maghrib telah tiba, maka kami lanjutkan kembali perjalanan menuju daerah Pameungpeuk – Garut, hanya beberapa menit saja kami sudah tiba di keramaian Pameungpeuk Garut, kota yang kecil tapi berkembang. Akhirnya kami berhenti di sebuah SPBU untuk menunaikan salat Maghrib dan beristirahat.

Setelah merasa bersih dan menunaikan salat Maghrib, kami sekaligus menyantap hidangan rumah makan Sederhana di SPBU Pameungpeuk tersebut.

Diantara nikmatnya lalapan dan sambal, muncullah perbincangan menarik dengan salah seorang Petugas Keamanan SPBU, beliau memberitahukan bahwa kami harus melalui Hutan Sancang untuk tiba di Cipatujah, dimana hutan Sancang ini menurut mitos terkenal dengan magisnya dan hewan buas seperti harimau dan babi hutan.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka apabila menjumpai hewan buas tersebut, jangan pernah menyorotkan lampu tetapi bunyikan klakson sekencang-kencangnya saja.

Petuah tersebut kami camkan dalam ingatan ketika motor kami mulai berjalan kembali menembus kegelapan malam.

Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB ketika kami mulai memasuki daerah hutan Sancang. Sebuah hutan lindung yang dipenuhi dengan pepohonan besar dan padat, sebagian besar lagi adalah perkebunan Karet yang dimiliki oleh pemerintah.

Klakson kami bunyikan beberapa kali untuk memecah keheningan malam juga sebagai tanda izin masuk, kendaraan pun kami jalankan pelan-pelan karena memang jalanan cukup kecil dan berlubang, tidak banyak gerakan yang kami lakukan meskipun itu hanya sekedar melirik ke kanan atau ke kiri selama melewati hutan tersebut selain menatap ke depan dan waspada dengan apa yang akan terjadi, kami juga tidak lupa selalu membunyikan klakson apabila akan melewati belokan dan jembatan.

Entah berapa belokan dan jembatan yang telah kami lalui, rasanya kami diajak berputar-putar mengelilingi Hutan Sancang yang gelap pekat diantara rimbunnya pohon karet.

Hujan turun gerimis ketika kami melihat beberapa bebatuan besar menjulang berwarna putih diantara gelapnya Hutan Sancang.

Akhirnya kami menemukan titik cahaya yang berasal dari lampu rumah penduduk, berarti kami sudah berhasil melalui Hutan Sancang.

Kami menghela nafas lega dalam hati masing-masing ketika menemukan kembali jalanan yang cukup ramai, sekitar pukul 22.00 WIB kami tiba di pantai Cipatujah, dan
ternyata pantai tersebut sudah gelap gulita dan tidak ada orang berlalu-lalang.

Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan kembali perjalanan ke lokasi berikutnya. Tibalah kami di Pantai Sindangkerta pada pukul 22.30 WIB, ternyata tidak
jauh beda dengan pantai Cipatujah, disana kami hanya menjumpai pantai kosong dengan ombak yang sedang pasang. Untung saja masih ada warung kopi yang masih buka, segelas kopi susu dan indomie rebus jadi menu utama malam itu.

Setelah beberapa lama kami melahap hidangan ternyata warung kopi tersebut sudah mau tutup, terpaksa kami harus segera beranjak dan mencari tempat singgah untuk
menghabiskan sisa malam. Tapi sungguh sayang bagi kami, karena terlampau malam maka tidak ada kesempatan untuk mencari rumah singgah, adalah Masjid Al-Falah yang terdapat di pintu masuk Pantai Sindangkerta menjadi pilihan terakhir kami untuk beristirahat.

Hujan deras yang turun diantara gelombang Pantai Sindangkerta menambah semarak ombak yang bersahutan menerjang karang sambut pagi hari kami, tidak terasa sudah 2 hari 2 malam kami meninggalkan Jakarta untuk melakukan ekspedisi.

Kami telah bersiap melanjutkan perjalanan ketika hujan mulai turun dan membersihkan kotoran yang menempel di kendaraan kami. Untung saja tidak begitu lama hujan berhenti, kami pun segera memacu kendaraan menuju lokasi selanjutnya yaitu pantai Karangtawulan. Waktu baru menunjukkan pukul 6.30 WIB ketika kami melewati daerah perkampungan dengan jalan lurus dan nyaman dilalui.

Meskipun beberapa kali dihadang hujan, perjalanan tetap dilanjutkan karena di depan kami cuaca terlihat cerah.

Ternyata tidak butuh waktu lama akhirnya kami sampai di depan pintu masuk pantai Karangtawulan sekitar pukul 7.10 WIB, terlihat jalanan kecil yang menanjak untuk
masuk ke pantai Karatngtawulan mungkin orang yang baru berkunjung tidak akan mengetahui ada pantai yang tersembunyi di balik tanjakan gerbang pantai Karangtawulan.

Sampailah kami di tempat parkir kendaraan, dan berhenti di depan sebuah warung kopi. Serta merta kami langsung melahap mie instan beserta gorengan dan segelas susu coklat panas sebagai menu sarapan pagi.

Untuk masuk ke pantai ini hanya dikenakan Rp. 2.200 per orang. Harga tersebut sungguh sangat murah sekali apabila dibandingkan dengan pemandangan yang disuguhkan. Diantara pantai yang telah kami kunjungi, pantai Karangtawu-lah yang nomor 1.

Dari arah tempat parkir, kami hanya berjalan beberapa langkah ke arah tebing pantai sudah bisa melihat keindahan alam yang membuat kami tertegun.

"Tidak perlu ke Bali untuk menikmati pemandangan yang luar biasa, ternyata di jawa barat juga masih ada," kata bro Iwan.

Memang pesona alam pantai Karangtawulan tidak jauh seperti di Bali, kita dapat melihat luasnya lautan dari atas tebing dan batuan karang terjal yang menawan,
terlebih rumput hijau tempat dimana kita berdiri. 

Sungguh hal tersebut tidak akan kita temukan di Jakarta.

(ddn/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads