Bergaya dengan Motor Kebapakan

Bergaya dengan Motor Kebapakan

- detikOto
Rabu, 12 Nov 2008 10:55 WIB
Bergaya dengan Motor Kebapakan
Jakarta - Salam kenal, nama saya Angger Novrianto Megasore. Di sini, saya mau bagi - bagi pengalaman saya dalam berkendara bersama motor Honda GL MAX berwarna hitam Tahun 2003. motor Jepang yang memiliki kapasitas 125cc, pemberian bokap saat masuk kuliah.
Β 
Pokoknya, motor ber-nomer polisi B 7219 UH inilah yang selalu menemani aktifitas saya dari pagi, siang, sore, hingga malam hari. Seperti biasa, Pengalaman tentu ada dua jenis, ada yang seindah desain Aston Martin One-77, namun ada pula yang begitu miris menyayat hati.
Β 
Motor ini sangatlah irit, karena dengan hanya bermodal bensin Rp. 10.000Β  per-hari, saya bisa melanglang buana dari Depok, hingga ke kampus di bilangan Senayan. Bahkan, saya juga bisa mampir ke rumah teman di Slipi, ANTARA di Ps. Baru, sampai melancong ke daerah Bekasi Timur walau tidak setiap hari.
Β 
Ketika pertama kali memilikinya, kesan pertama saya tuh ngga-banget, sebab kalian tahu sendirilah, disain motor ini sangat kaku dan terkesan ke'bapak-bapak'an.

Akhirnya, demi menghilangkan kesan kaku tersebut, maka mulailah saya lakukan beberapa modifikasi sederhana, seperti merubah tampilan depan dengan menggunakan lampu milik Yamaha King, mengganti stang dengan milik Tiger, sertaΒ  Plek 17 dengan ukuran ban 200 di bagian depan dan belakang.
Β 
Itulah Pengalaman pertama saya dalam memodifikasi sebuah motor. Berangkat pagi pulang sore. Sampe rumah langsung cuci motor, tidak lupa agar tambah mengkilat beberapa bagian saya digosok pake silikon. Setelah tampak oke, dengan penuh rasa percaya diri saya pun berkeliling kompleks. Biasa, manasin mesin sekalian isi bensin. Hehehehe.
Β 
Ada sebuah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya, yakni, di malam Valentine. Ketika itu, bukan bunga, bukan pula coklat yang saya dapat. Tapi lengan dan dengkul saya yang akhirnya dibalut perban. Mirisnya, luka kecil yang mengering di kedua telapak tangan mirip kismis, seolah-olah hadiah dari aspal dihari kasih sayang. Hiks-hiks-hiks.

Ceritanya bermula ketika saya tengah berada dalam perjalanan ke kampus. Nah, di daerah sekitar Blok M itulah, kopaja jurusan Ps. Minggu – Blok M dengan tega menabrak saya. Padahal bila berbicara tentang kecepatan, saya termasuk orang yang takut dengan kecepatan tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak mempan dengan obat pemberian dokter, saya pun bergegas mendatangi tukang urut ternama di daerah Tanah Abang yang merawat saya dengan baluran hasil racikan turun – temurun buatannya. Sedih banget ya. (syu/tbs)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads