Alba, Dari Phobos ke Domon

Alba, Dari Phobos ke Domon

- detikOto
Jumat, 26 Sep 2008 15:11 WIB
Alba, Dari Phobos ke Domon
Jakarta - Nama saya Alba. Awalnya saya ingin sekali memiliki kendaraan yang murah meriah. Berkat kegigihan dan rasa sakit hati yang tidak karu-karuan karena kakak saya tiba-tiba dibelikan mobil baru, akhirnya saya menabung dan berhasil membeli Holden Premier HQ tahun 1974 yang saya beri nama Phobos.

Waktu itu saya dapat dari temannya teman saya waktu SMP, yang berdomisili di seputaran Taman Mini (Arga). Dengan biaya yang tidak terlalu besar untuk ukuran mobil saya beli dengan harga 5 juta rupiah, surat lempeng, pajak mati 2 tahun, mesin sehat, tampilan garang, warnanya merah butek, warna di STNK biru dan akhirnya saya cat putih hijau, ngga nyambung emang.

Tapi di situlah keunikan mobil ini. Jarang sekali ada yang memiliki keadaan yang maksimal baik dari segi fisik hingga surat-surat/pajak yang masih hidup. Saya perbaiki Phobos hingga mengeluarkan dana sekitar 7 jutaan untuk cat dan ganti-ganti yang perlu. Karena tidak ada AC-nya, makanya mobil ini lebih sering beredar pada malam hari. Saya mengendarai Phobos sekitar 1 tahunan. Setelah itu, saya mengganti mobil saya dengan Domon.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Asal muasal Domon adalah waktu itu saya ditawari oleh seseorang (Adam) yang katanya sih mobil itu milik pamannya. Setelah saya lihat dia adalah sebuah mobil berwarna hitam (super deep black) keluaran negeri Kangguru bermerek Holden dengan jenis Premier HJ yang diproduksi pada tahun 1978. Tampilan jenis ini memang tidak segarang Phobos, dia lebih elegan.

Saat itu saya mencoba untuk memutar otak bagaimana untuk saya mendapatkan mobil ini. Akhirnya saya memutuskan dengan berat hati untuk melepas Phobos ke tangan teman kuliah saya dengan harga 9 juta rupiah. Rugi memang karena saya sudah menghabiskan total biaya 12 juta rupiah. Itu juga bayarnya dicicil seminggu 500 ribu.

Saya menguras seluruh tabungan dan meminjam uang ibu saya untuk membeli Domon. Tidak jadi rugi ternyata saya mendapatkan mobil ini dengan keadaan sangat baik, tangan pertama bekas ABRI, surat lempeng, pajak mati 2 tahun, cat orisinil dan tidak banyak yang harus dibenahi baik interior maupun eksterior. Yang pasti ada AC’nya jadi bisa dibawa siang-siang walaupun mataharinya ada lima. Jadi inilah awal cerita saya dengan Domon.

Sejak saya memiliki mobil pertama saya, orang tua saya tidak pernah tahu bila saya memiliki mobil sendiri. Karena kalau sampai mereka tahu, bisa-bisa disuruh jual lagi tuh mobil dan mereka lebih memilih untuk tidak mengurusi mobil tua yang katanya spare-partnya sulit dan bensinnya yang boros.

Iya sih, tapi yang namanya anak muda pasti lebih ingin memiliki experience yang tinggi di mana sesuatu yang sudah menjadi hobinya tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Jadi selama ini mobil saya sampai sekarang saya titipkan pada teman saya yang sangat baik hati (Gian & a’Devi).

Perjalanan terjauh saya bersama Domon adalah ke Bandung. Saat itu Domon ditumpangi oleh 5 orang, kami menginap di Lembang yang tanjakan dan turunannnya cukup curam. Tapi Domon dapat mengatasi itu semua. Pengalaman yang mengesankan hingga saat ini adalah ketika saya dan teman-teman saya akan pulang. Tiba-tiba mesin Domon mati mendadak. Hujan memang tidak terlalu deras tapi cukup membuat basah, dan semua teman saya mendorong sambil ngomel-ngomel.

Ada juga ketika saya sedang malam mingguan berduaan bersama Chinta’ku setelah mengisi bensin di seputaran Cilandak. Tiba-tiba mobilnya tidak dapat distarter, akhirnya sang pacarpun rela mendorong Domon, sambil menunggu bala bantuan. Kita pun tidur-tiduran di atas kap mesin Domon yang lumayan bisa untuk tidur-tiduran. Acara malam mingguanpun tetap dapat dijalankan. Banyak sebenarnya pengalaman pengalaman unik yang dapat kita rasakan bersama kendaraan yang kita sayangi.

Yang sudah saya lakukan dalam memodifikasi Domon tidak banyak, yaitu mengganti velgnya dengan menggunakan velg milik mercy yang seperti harmolet ring 15’, sol cat yang karat-karat saja, audio, head unit saya menggunakan pioneer, sab dan oval Kickers, mesin saya menggunakan CDI milik Holden Komodor. Grill Holden Koingswood SL, Bagasi Holden Statemen, lambang Grill milikΒ  Holden Monaro, saya tidak banyak melakukan modifikasi pada Holden saya agar tidak menghilangkan kesan originalnya. (asy/asy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads