Pengendara Moge yang Tabrak Mati Anak Kembar, Sudah Kompeten?

Tim detikcom - detikOto
Minggu, 13 Mar 2022 17:30 WIB
Moge Tabrak Bocah Pangandaran
Moge tabrak bocah Foto: Aldi Nur Fadillah
Jakarta -

Dua bocah kembar di Desa Tunggilis, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran tewas tertabrak dua motor gede (moge) jenis Harley Davidson, Sabtu (12/3/2022).

Menurut keterangan saksi, Hendi (27), kedua moge tersebut berjalan sangat kencang dan ugal-ugalan, lalu menabrak dua bocah yang hendak menyebrang. Sehingga, korban mengalami luka parah dan meninggal dunia di lokasi kejadian.

"Rombongan moge terlihat berjalan ngebut dan ugal-ugalan," kata Hendi (27), warga setempat sekaligus saksi kejadian tersebut.

Berdasarkan bahan keterangan dari Polsek Kalipucang, moge tersebut dikendarai oleh Ag dengan plat nomor B 6227 HOG, dan moge Harley berplat nomor D 1993 NA yang dikendarai An.

Founder dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, pengendara yang tak bisa mengontrol motor maka tidak bisa menyikapi risiko kecelakaan.

"Naik motor besar memerlukan perlakuan khusus, karena motor besar yang pasti berbeda dengan motor kecil. Dari sisi bobot dia lebih besar, kemudian tenaganya besar, bahkan ada yang cenderung liar, dengan dua kesulitan tadi, ditambah di ruang publik, maka ketiga faktor ini memiliki peluang kecelakaan sangat besar ketika seseorang yang mengendalikan itu tidak kompeten," kata Jusri kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

Bicara kompetensi, orang boleh saja menganggap dirinya mampu mengendarai moge. Namun, orang yang memiliki SIM saja belum tentu kompeten mengendarai kendaraan bermotor.

"Kita di Indonesia, bicara kompetensi masih merupakan area yang lemah. Walaupun sudah punya SIM, tapi orang bisa menganggap dirinya terampil karena biasa, bukan terampil karena kompeten. Kompeten yang dimaksud itu adalah seseorang itu paham tentang apa yang dia lakukan. Bahkan bukan sebatas yang dia lakukan, apa yang dia lihat pun dia juga paham," ujar Jusri.

Ada tiga hal penting terkait kompetensi berkendara yang masih kurang dimiliki pengendara, tidak hanya pengendara motor besar, tapi semua kendaraan bermotor. Tiga hal itu antara lain pengetahuan, kemampuan atau skill, dan sikap atau attitude.

"Skill ini yang berbasis dari training, bukan yang dari pengalaman. Kemudian attitude yang bisa kita tampilkan di jalan adalah semangat berbagi, empati, antre, tidak menerobos lampu merah. Nah empati masih sangat lemah di sini. Mereka lebih kepada eksistensi, show off, sehingga melupakan kaidah-kaidah lain dalam menggunakan fasilitas publik. Bukan hanya di moge, itu boleh dikatakan bagian dari paradigma masyarakat Indonesia," ujar Jusri.



Simak Video "Gagah! Ini Wujud Harley-Davidson Sportster S yang Dijual Resmi di RI"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/mhg)