"Kesulitan dalam membangun ojek terbang itu, pertama, soal keterbatasan waktu, karena saya saat ini masih bekerja disalah satu instansi pemerintah. Kedua, sulitnya mencari bahan material untuk membangun drone, material yang kuat tapi ringan," kata Dicky.
Perangkat yang sulit didapatkan juga menjadi tantangan Dicky untuk melahirkan ojek terbang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keempat, tenaga listrik yang digunakan atau baterai. Chargernya lama sekali karena, karena saya baru punya satu chargeran dan itu bisa memakan 12 jam, terbangnya hanya sekitar 10 menit. Belum lagi saya harus mensetting. Tapi saat ini saya coba kembangkan menjadi hybrid, akan menggunakan mesin bensin juga untuk menambah flight time," katanya.
Lalu berapa dana yang dikuluarkan Dicky untuk bisa membuat prototipe ojek terbang ini ya?
"Dana saya pelan-pelan mas, maksudnya sedikit demi sedikit (nyicil-Red). Mungkin kira-kira Rp 60 juta selama dua tahun. Dan akhirnya dengan 12 motor, 12 baling-baling dengan ukuran 30 inci terbuat dari fiber, speed controler 160 ampere ini program sendiri, begitu juga dengan flight controler 1 motor 1 buat ini juga program yang saya buat sendiri. Sehingga kalau satu error, tidak langsung jatuh," ujar Dicky. (lth/dry)












































Komentar Terbanyak
Pasutri Ngerokok di Motor sambil Bawa Bayi-Ditegur Ngamuk, Endingnya Begini
Mobil China Bikin Mata Konsumen Indonesia Jadi Terbuka
Kenapa Pemotor yang Ngerokok Susah Dibilangin?