"Kurang lebih ada 1.000 titik jalan di Jakarta yang rusak," kata Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, AKBP Wahyono kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (12/12/2011).
Wahyono mengatakan, kategori jalan rusak ini di antaranya jalan berlubang, licin, bergelombang dan rusak. Kondisi jalan itu kerap menimbulkan kecelakaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Titik jalan rusak ini tersebar di hampir seluruh kawasan DKI Jakarta. Hanya saja, Wahyono tidak merinci di mana saja titik-titik jalan rusak tersebut.
"Tapi yang paling banyak itu di wilayah Jakarta Timur," ucapnya.
Sementara itu, berdasarkan catatan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya selama 2 pekan Operasi Zebra Jaya (28 November-11 Desember), sedikitnya 152 kecelakaan terjadi akibat faktor jalan yang rusak.
Dari 152 kasus kecelakaan yang diakibatkan faktor jalan, kondisi jalan berlubang mendominasi kecelakaan tersebut sebanyak 76 kasus. Kemudian, jalan licin menyumbang 38 kasus kecelakaan.
"Lainnya karena jalan berlubang sebanyak 24 kasus dan 14 kasus akibat jalan rusak," katanya.
Wahyono mengatakan, dari 152 kasus kecelakaan yang diakibatkan faktor jalan, tidak ada yang menimbulkan fatalitas korban jiwa.
"Sejauh ini tidak ada yang meninggal dunia akibat kecelakaan yang diakibatkan faktor jalan ini," jelasnya.
Wahyono mengatakan, faktor kecelakaan memang tidak melulu akibat jalan yang rusak. Faktor lainnya yakni human error dan alam. "Faktor manusia menyumbang 39 kasus kecelakaan dan 9 kasus akibat faktor alam," ujarnya.
Terkait kondisi jalan yang rusak ini, Wahyono mengaku pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU). "Kita terus evaluasi dan analisa serta koordinasi dengan pihak PU," tutupnya.
Foke: Pengerjaan Proyek Gorong-gorong di Sudirman Tidak Optimal
Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta sedang mengebut pengerjaan proyek gorong-gorong di sepanjang jalan Sudirman agar tidak terus merugikan masyarakat. Pasalnya, sejak pengerjaan proyek ini kemacetan panjang tidak bisa terhindari.
Alhasil, Dinas PU memilih merubah waktu pengerjaan menjadi malam hari. Namun, perubahan konsep kerja ini dinyatakan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo tetap tidak optimal.
"Saya minta pekerjaan di Sudirman itu coba dilihat kembali, karena sudah dikerjakan malam, tapi yang kerja malam sepertinya tidak optimal," terang Fauzi Bowo di Balaikota Jakarta, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (12/11/2011).
Foke, begitu ia kerab disapa telah menginstruksikan Sekretaris Daerah, Asisten Sekda bidang Pembangunan dan Lingkungan Hidup untuk melakukan peninjauan langsung ke lapangan. Dia meminta pengerjaan yang dilakukan sepanjang malam hari dievaluasi.
"Kalau malam hari apa yang dikerjaan?" tanyanya.
Foke sendiri mengaku sudah sering meninjau ke lokasi pengerjaan untuk mengetahui sejauh mana perkembangaan proyek ini. Hasil pengamatannya, pekerjaan malam hari ini hanya sebagian kecil saja.
"Saya sudah meninjau ke sana, saya lihat ada pekerjaan seperti pemasangan duckting tapi tidak masif," kritiknya.
Memilih waktu pengerjaan malam hari, harusnya bisa dikerjakan pada pagi hari. Sayangnya, hal itu tidak bisa dilakukan sehingga pengerjaan gorong-gorong ini terkesan lambat.
Dihubungi terpisah, Wakil Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta, Novizal mengatakan pihaknya akan terus mengawasi proyek ini. Ia mengatakan, sejauh ini kendala yang dihadapi karena beton yang harus dicor di tempat, sehingga pengeringannya diperlukan waktu satu minggu.
"Sebab jalan Jendral Sudirman akan dilintasi oleh banyak kendaraan, sehingga dikhawatirkan akan cepat rusak jika tidak mengunggu hingga kering. Semua gorong-gorong menggunakan box yang dicetak. Pemasangannya setiap tiga box diselingi dengan yang dicor. Diperkirakan pekerjaan gorong-gorong ini rampung pada 20 Desember ini," jelas Novizal.
Polda Metro Minta Gorong-gorong di Sudirman Selesai Sebelum Natal
Sementara itu, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya mengimbau agar proyek rehabilitasi gorong-gorong di ruas Jl Jenderal Sudirman selesai sebelum perayaan Natal 2011. Pasalnya, menjelang Natal, aktivitas kendaraan di ruas jalan tersebut diprediksi meningkat.
"Kita minta percepatan agar sebelum Natal diselesaikan, karena aktivitas sebelum Natal hingga akhir tahun akan meningkat dan pengguna jalan meningkat," jelas Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Wahyono kepada wartawan di Jakarta.
Wahyono mengatakan, aktivitas pengguna jalan diprediksi meningkat mulai H-2 Natal atau tanggal 23 Desember 2011. Peningkatan aktivitas masyarakat ini tentunya akan mengakibatkan kemacetan, ditambah kondisi jalan yang menyempit akibat proyek tersebut.
"Sehingga, kita berharap agar Dinas Pekerjaan Umum (PU) dapat menyelesaikan proyeknya sebelum tanggal tersebut," ujarnya.
Ia mengatakan, aktivitas masyarakat pada tanggal tersebut hingga akhir tahun diperkirakan meningkat. Pada tanggal tersebut, kondisi jalan tentu akan dipadati masyarakat yang menyerbu mal-mal dan tempat-tempat wisata.
"Karena nanti liburan tanggal 23 Desember sudah mulai libur. Mulai (tanggal) 24 Desember itu sudah mulai meningkat. Menjelang malam tahun baru dan natal, lokasi hiburan akan mengalami lonjakan," jelasnya.
Sementara itu, Wahyono mengungkapkan, pihaknya telah merekomendasikan ke pihak Dinas Pekerjaan Umum untuk mengerjakan proyek tersebut pada malam hari. Pasalnya, bila dikerjakan pada siang hari, akan menimbulkan kemacetan.
"Kita rekomendasikan pengerjaannya mulai pukul 24.00-05.00 WIB," katanya.
Guna mendukung aspek keselamatan, pihaknya juga telah mengimbau Dinas PU untuk menutup kembali galian tersebut pada siang hari.
"Kalau galian ini cukup ditutupi pelat besi tapi harus ada penyangga bawahnya," kata dia.
(mei/syu)












































Komentar Terbanyak
Diborong Proyek MBG, Desain Motor Listrik Emmo Baru Didaftarkan Akhir Tahun Lalu
Spesifikasi Motor Listrik Buat Operasional MBG, Harga Mulai Rp 49 Jutaan
Di RI Banyak Merek Motor Listrik, Kenapa Harus Emmo Rp 50 Jutaan buat MBG?