Produksi Mercedes-Benz di Jerman dinilai tidak kompetitif menurut standar internasional. Soalnya, biaya tenaga kerja di sana terbilang tinggi. Eksekutif Mercy bilang, dua pabrik Mercy bisa-bisa tutup.
Diberitakan Reuters, seorang eksekutif puncak Mercedes-Benz memberikan peringatan kepada para pekerja bahwa dua pabrik bisa saja tutup. Dalam sebuah pernyataannya, Mercedes-Benz sebenarnya ingin mempertahankan pabrik dan lapangan kerja di Jerman.
"Namun, untuk mewujudkannya, kami membutuhkan kondisi kerangka kerja yang dapat meningkatkan produktivitas di Jerman," kata perusahaan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Produksi Mercedes-Benz, Michael Schiebe, mengatakan penutupan pabrik mungkin terjadi jika biaya tidak ditekan. Hal itu disampaikan Schiebe kepada para pekerja yang berkumpul di pabrik perusahaan yang telah beroperasi selama 111 tahun di Sindelfingen, Jerman.
"Tujuan kami yang jelas adalah mempertahankan seluruh lokasi kami di Jerman," ujar Schiebe. Dia menambahkan, hal ini memerlukan komitmen bersama terkait langkah-langkah efisiensi biaya.
"Jika kami tidak mampu melakukan hal ini (efisiensi biaya), kami terpaksa harus menutup satu pabrik perakitan dan satu pabrik komponen penggerak (powertrain) di Jerman," katanya.
Mercedes tidak merinci pabrik mana saja yang terancam penutupan. Namun, juru bicara dewan pekerja Mercedes-Benz mengatakan, ancaman penutupan pabrik bukan cara untuk membangun masa depan.
"Siapa pun yang menggunakan ancaman semacam itu harus bersiap menghadapi perlawanan keras dari kami," ujarnya.
"Jika dewan direksi yakin dapat menekan karyawan dengan ultimatum 'konsesi atau penutupan pabrik', jawaban kami tegas: 'kami tidak akan membiarkannya terjadi'," tambahnya.
Pertemuan para pekerja tersebut berlangsung di tengah gelombang protes nasional yang diorganisir oleh serikat pekerja IG Metall, di mana puluhan ribu pekerja otomotif berunjuk rasa menentang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di sektor mereka.
Badai PHK itu muncul di sektor otomotif yang berjuang keras untuk bersaing dengan rival dari China yang harganya lebih kompetitif sekaligus menghadapi beban tarif impor yang tinggi dari Amerika Serikat.










































