Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, buka suara soal rencana Presiden Prabowo Subianto mengembangkan bahan bakar minyak (BBM) dari batu bara.
Bahlil menegaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mengoptimalkan seluruh potensi energi yang ada di dalam negeri. Hal itu dinilai penting di tengah kondisi geopolitik global yang tak menentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terkait dengan membuat gas ataupun minyak lewat batu bara itu berangkat dari pemikiran bahwa dalam kondisi geopolitik yang tidak menentu, maka kalau Presiden Prabowo berkata, ini adalah mengoptimalkan seluruh potensi energi yang ada di Indonesia," kata Bahlil, dikutip dari CNN Indonesia, Rabu (23/9).
Presiden Prabowo Subianto Foto: YouTube Sekretariat Presiden |
Menurut Bahlil, perkembangan teknologi saat ini memungkinkan batu bara diolah menjadi gas maupun minyak. Teknologi tersebut juga telah digunakan di sejumlah negara, termasuk China.
"Sekarang teknologinya sudah canggih, di mana batu bara yang low calorie itu bisa menghasilkan gas maupun minyak," ungkapnya.
Bahlil menyebut peluang tersebut cukup besar karena Indonesia memiliki cadangan batu bara yang melimpah. Sejumlah perusahaan juga telah menawarkan kerja sama teknologi kepada pemerintah.
"Beberapa perusahaan-perusahaan sudah melakukan penawaran kepada kami untuk melakukan kerja sama. Kita tahu bahwa potensi batu bara kita untuk melakukan teknologi itu sangat besar sekali," tuturnya.
Pemerintah, lanjut Bahlil, akan menindaklanjuti arahan Prabowo untuk mengembangkan sumber energi domestik. Salah satu tujuannya adalah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap BBM impor.
"Karena itu kami sebagai Menteri ESDM akan menindaklanjuti setiap perintah arahan Pak Presiden terkait dengan optimalisasi dalam rangka meningkatkan ketahanan energi dengan memakai sumber energi dalam negeri," kata dia.
Sebelumnya, Prabowo menyampaikan, pemerintah tak hanya mengembangkan BBM berbasis kelapa sawit. Pihaknya belakangan melihat peluang membuat bensin dari batu bara.
Selain batu bara, pemerintah mengkaji pengembangan bensin berbasis etanol. Rencananya, pencampuran etanol ke dalam bensin akan dilakukan secara bertahap, mulai E10 hingga E50.
"Profesor-profesor kita yang pintar, yang benar pintar ya, bukan yang profesor tadi itu. Dari fakultas-fakultas teknik kita sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit, dan sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit, dan kita juga nanti akan bikin bensin dari batu bara," kata Prabowo.











































