BYD batal melanjutkan rencana pembangunan pabrik perakitan mobil listrik di Tanjung Malim, Perak, Malaysia. Lantas, akankah mereka mengimpor kendaraan dari pabrik Subang, Jawa Barat?
Sebelumnya, Managing Director BYD Malaysia, Jacob Ma memastikan, pihaknya tak akan melanjutkan pembangunan pabrik completely knocked down (CKD) di Tanjung Malim. BYD kini masih merumuskan strategi yang sesuai dengan pasar setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski batal membangun pabrik sendiri, BYD masih membuka peluang melakukan perakitan lokal melalui kerja sama dengan vendor. Pembicaraan dengan sejumlah pihak konon sudah mencapai babak akhir.
"Kami ingin memastikan BYD bisa bergerak bersama ekosistem otomotif lokal. Kami sudah mulai berdiskusi dengan vendor di negara ini sejak tahun lalu dan ingin melihat bagaimana kami bisa bekerja sama dengan mereka serta menjadi bagian dari ekosistem tersebut," kata Jacob Ma, dikutip Harian Metro.
BYD batal bangun pabrik di Malaysia. Foto: Doc. BYD. |
Lebih jauh, Ma memastikan, BYD Malaysia belum memiliki rencana mengimpor kendaraan dari Indonesia. Menurutnya, langkah tersebut baru akan dipertimbangkan jika ada model tertentu yang tak tersedia di Malaysia dan permintaannya tinggi.
Artinya, peluang mobil BYD produksi Indonesia masuk ke Malaysia tetap terbuka, meski belum menjadi rencana dalam waktu dekat.
BYD sendiri telah membangun fasilitas produksi di Subang, Jawa Barat. Pabrik tersebut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pasar Indonesia sekaligus membuka peluang ekspor ke negara-negara lain di kawasan.
Ma menjelaskan, perencanaan kapasitas produksi BYD harus dilihat dalam jangka panjang, sekitar 10-20 tahun. BYD juga masih mengeksplorasi kerja sama dengan mitra lokal untuk mendukung perkembangan industri kendaraan energi baru di Malaysia.
Sejak diperkenalkan di Malaysia, BYD mengklaim telah menjual 35 ribuan unit mobil. Menariknya, lebih dari 7.500 unit di antaranya terjual pada paruh pertama 2026.











































