Malaysia-Indonesia Kolaborasi Bikin Baterai Mobil Listrik

Malaysia-Indonesia Kolaborasi Bikin Baterai Mobil Listrik

Septian Farhan Nurhuda - detikOto
Kamis, 27 Agu 2026 14:10 WIB
Baterai Mobil Listrik.
Foto: Doc. Asean Briefing
Jakarta -

Indonesia dan Malaysia kolaborasi mengembangkan baterai mobil listrik bersama. Proyek tersebut diberi nama 'Baterai Nusantara'.

Profesor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Founder National Battery Research Institute (NBRI), Evvy Kartini mengatakan, kerja sama itu merupakan upaya membangun kemampuan industri baterai ASEAN secara mandiri.

Menurutnya, Indonesia punya potensi besar dari sisi material baterai, terutama untuk pengembangan katoda. Sementara Malaysia memiliki fasilitas pilot yang bisa dimanfaatkan untuk memproduksi sel baterai.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Indonesia memiliki potensi untuk berkontribusi dari sisi material baterai, khususnya pengembangan katoda. Sementara itu, Malaysia memiliki fasilitas pilot yang dapat digunakan untuk memproduksi sel baterai," ujar Evvy, dikutip dari Antaranews, Kamis (27/8).

ADVERTISEMENT

[Gambas:Youtube]

Dalam pengembangan Baterai Nusantara, material yang dikembangkan di Indonesia dikirim ke Malaysia untuk diproses menjadi baterai. Produk tersebut juga telah diperkenalkan di Malaysia bersama kementerian terkait.

Kerja sama tersebut, kata Evvy, tak sekadar mengejar angka produksi. Indonesia dan Malaysia juga ingin membangun rantai pasok baterai yang melibatkan negara-negara ASEAN.

"Kita juga ingin mencoba bagaimana di ASEAN ini tidak tergantung juga. Jadi punya baterai ASEAN sendiri," ungkapnya.

Mercedes-Benz mengetes EQS dengan baterai Solid-stateIlustrasi baterai mobil listrik. Foto: Mercedes-Benz AG/Mercedes-Benz AG – Communicati

Menurut Evvy, ASEAN memiliki pasar kendaraan listrik yang besar sehingga berpotensi menjadi basis pengembangan teknologi baterai regional. Namun, kemampuan riset dan produksi di masing-masing negara masih perlu diperkuat.

Salah satu yang dinilai penting adalah pembangunan fasilitas pilot plant di Indonesia. Fasilitas tersebut diperlukan untuk menjembatani hasil riset material di laboratorium sebelum masuk ke produksi baterai skala komersial.

"Pilot itu kita tidak perlu langsung membuat gigawatt hour. Kita perlu bridging antara material ini ke sana," kata dia.

Dengan adanya pilot plant, teknologi yang sudah dikembangkan di laboratorium bisa diuji dalam skala lebih besar sebelum masuk tahap industrialisasi.

Kolaborasi Indonesia-Malaysia itu diharapkan menjadi langkah awal membangun ekosistem baterai ASEAN. Dengan menggabungkan riset, material, fasilitas produksi, dan pasar regional, ASEAN diharapkan tak hanya menjadi basis produksi mobil listrik, melainkan juga mampu mengembangkan baterainya sendiri.



(sfn/dry)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads