×
Ad

Ragam Penyebab Banyak Orang Terobos Perlintasan KA dan Lampu Merah

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Jumat, 01 Mei 2026 17:30 WIB
Taksi listrik ditabrak kereta di Bekasi. Foto: Nasywa Fauziah/detikFoto
Jakarta -

Di Indonesia, masih banyak pengguna kendaraan bermotor yang nekat melakukan aksi pelanggaran lalu lintas. Pelanggaran yang dilakukan tidak hanya berpotensi merugikan diri sendiri, tapi bisa menelan korban jiwa.

Baru-baru ini, terjadi kecelakaan maut kereta api Argo Bromo Anggrek menabrak KRL Commuter Line di Bekasi. Kecelakaan itu diduga dipicu oleh kecelakaan lain ketika kereta KRL Commuter Line menabrak taksi listrik yang terjebak di tengah rel kereta api.

Kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur diduga bermula ketika ada kereta commuter line menabrak taksi listrik Green SM di perlintasan kereta api di Jalan Ampera. Akibat kecelakaan itu, kereta commuter line lainnya tertahan di Stasiun Bekasi Timur. Nahas, kereta commuter line yang tertahan di Stasiun Bekasi Timur itu ditabrak Kereta Argo Bromo. Akibat kecelakaan ini, 16 orang dilaporkan meninggal dunia dan puluhan lainnya luka-luka.

Praktisi keselamatan berkendara yang juga founder dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengatakan ini berkaitan dengan kesadaran keselamatan berlalu lintas yang masih rendah di masyarakat Indonesia.

"Lemahnya Safety Awareness berarti rendahnya kesadaran seseorang terhadap keselamatan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Orang dengan safety awareness yang lemah cenderung tidak memikirkan risiko, mengabaikan aturan, atau merasa tidak akan terjadi apa-apa," kata Jusri kepada detikOto.

Contoh perilaku pengendara dengan safety awareness lemah antara lain tidak memakai helm saat naik motor atau sabuk pengaman di mobil, main HP saat berkendara, menerobos lampu merah atau tidak memperhatikan rambu, menerobos palang pintu kereta api, berkendara melawan arus, ngebut di area ramai atau jalan sempit, tidak menyalakan lampu sein saat berbelok serta mengemudi dalam kondisi mengantuk atau setelah minum alkohol.

Menurut Jusri, ada beberapa penyebab umum mengapa hal itu terjadi. Pertama karena kurangnya edukasi. Pelanggar itu kerap tidak memahami pentingnya keselamatan atau aturan lalu lintas. Kedua karena kebiasaan buruk. Mereka sudah terbiasa melanggar tanpa konsekuensi.

Juga karena overconfidence alias terlalu percaya diri. Mereka kerap merasa sudah mahir, jadi meremehkan risiko.

"Lingkungan sosial, melihat orang lain juga melanggar, jadi ikut-ikutan. Penegakan hukum lemah, jarang ada sanksi, sehingga tidak ada efek jera. Terburu-buru, mengutamakan kecepatan daripada keselamatan," kata Jusri.

"Intinya, safety awareness yang lemah sering muncul dari kombinasi pengetahuan yang kurang, sikap yang meremehkan risiko, dan lingkungan yang tidak mendukung perilaku aman," sebut Jusri.



Simak Video "Video Tekad Prabowo Perbaiki 1.800 Perlintasan KA Sebidang"

(rgr/sfn)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork