Pengemudi Bus dan Truk Banyak Tak Paham, Jangan Pindah Gigi di Jalan Menurun!

ADVERTISEMENT

Pengemudi Bus dan Truk Banyak Tak Paham, Jangan Pindah Gigi di Jalan Menurun!

Luthfi Anshori - detikOto
Rabu, 30 Nov 2022 20:32 WIB
Sebuah bus yang mengangkut rombongan karyawan perusahaan konveksi asal Kabupaten Sukoharjo menabrak tebing di kawasan Bukit Bego, Jalan Dlingo-Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY, Minggu (6/2/2022) siang. Kecelakaan tunggal itu menyebabkan belasan penumpang tewas.
Pengemudi bus dan truk harus paham prosedur mengemudi di jalanan menurun. Foto: Pradito Rida Pertana
Jakarta -

Rem blong menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan di industri transportasi umum dan niaga Indonesia. Maka itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengimbau kepada para sopir bus dan truk agar lebih memahami prosedur berkendara di jalanan menurun. Salah satu prosedur itu adalah jangan memindahkan gigi!

Seperti disampaikan Plt Kepala Sub Komite Investigasi Kecelakaan LLAJ KNKT, Ahmad Wildan, memindahkan gigi bus atau truk di jalan menurun akan berdampak fatal pada kendaraan. Sebab sistem transmisi di bus dan truk tidak didesain untuk bisa pindah gigi di jalanan menurun. Gigi hanya bisa pindah ke posisi netral, yang artinya tidak bisa dilakukan pengereman oleh mesin (engine brake).

"Semua pengemudi bus dan truk, jangan sekali-kali memindahkan gigi di jalan menurun. Kenapa? Di jalan menurun gaya gravitasi besar banget. Ketika Anda memindahkan gigi, hal pertama yang dilakukan adalah menginjak kopling, pada saat menginjak kopling maka putaran roda menjadi maksimal, nggak ada yang nahan sama sekali," bilang Wildan pada Forum Kehumasan dan Media Rilis 'Keselamatan Bus Pariwisata di Indonesia (Studi Kasus Kecelakaan Bus Wisata di Tebing Bego, Bantul), Rabu (30/11/2022).

Ketika putaran roda sangat tinggi, maka proporsi antara putaran roda dengan putaran mesin (jadi) nggak seimbang. Ketika pengemudi coba memindahkan ke gigi 2 (untuk engine brake), synchronous pasti nggak akan mau, pasti semuanya akan masuk ke gigi netral," lanjut dia.

Dari pengalaman KNKT melakukan investigasi kecelakaan bus dan truk di jalanan menurun, Wildan menemukan fakta bahwa kebanyakan bus dan truk yang celaka itu posisi giginya ada di netral. Hal itu menunjukkan bahwa pengemudi berusaha memindahkan gigi ke transmisi rendah, namun ditolak oleh sistem, dan sistem mengarahkan ke gigi netral, yang artinya sistem transimisi tidak memiliki cengkeraman terhadap mesin.

"Ini menjelaskan, kenapa semua kasus rem blong kecepatannya tinggi. Karena masuk gigi netral, semua pengemudi mencoba memindahkan gigi dari 3 ke 2, dari 4 ke 2, dan sebagainya. Sebelum memindahkan pasti nginjak kopling. Pada saat itu selesai, dorongnya maksimal, putaran roda jadi tidak sebanding dengan putaran mesin. Akan ditolak (jika pindah gigi), kalaupun masuk pasti rompal, giginya nggak akan kuat. Oleh sebab itu, nggak ada satupun teknologi otomotif yang mengizinkan pengemudi memindahkan gigi rendah pada saat di jalan menurun, karena mesin akan hancur, nggak akan bisa, jadi semua masuk ke gigi netral," sambung Wildan.

Oleh sebab itu Wildan mengimbau kepada para sopir bus dan truk agar lebih memahami medan yang akan dilalui. Jika merasa akan melewati turunan curam, maka harusnya sudah memposisikan gigi kendaraan di posisi rendah, gigi 1 atau gigi 2 sejak dini.

"Kalau menggunakan gigi rendah, maka yang akan mengurangi kecepatan adalah mesin (engine brake). Contoh di Petung, Merapi (Yogyakarta), di sana banyak truk-truk yang memuat tanah sama batu yang besar-besar, begitu turun mereka menggunakan gigi rendah. Suara mesinnya nggerung, karena ditahan mesin, bukan rem Dan itu tidak akan ngeblong," kata Wildan.



Simak Video "Bus Pariwisata Seharusnya Dilarang Lewat Jalan Ekstrem, Setuju?"
[Gambas:Video 20detik]
(lua/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT