Benarkah Klakson Telolet Bikin Truk Rem Blong? Ini Penjelasannya

ADVERTISEMENT

Benarkah Klakson Telolet Bikin Truk Rem Blong? Ini Penjelasannya

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Kamis, 20 Okt 2022 08:29 WIB
Petugas gabungan kepolisian dan Pemadam Kebakaran berjibaku mengevakuasi Truk Pertamina di lokasi kecelakaan maut Cibubur.
Kecelakaan truk Pertamina di Cibubur (Foto: Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta -

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan penyebab kecelakaan maut truk Pertamina di kawasan Cibubur. Salah satu penyebabnya adalah klakson telolet yang membuat rem jadi blong. Apa hubungannya klakson dengan rem blong?

Menurut Plt Kepala Subkomite Investigasi Lalu Lintas Angkutan Jalan KNKT Ahmad Wildan, hubungannya ada pada penggunaan tekanan udara. Klakson telolet ini memanfaatkan udara yang juga digunakan untuk rem. Alhasil ketika udara tersebut mau digunakan untuk ngerem, sudah tidak cukup.

"Jadi ketika klakson dibunyikan itu akan membuang angin, misal dia (sopir truk) klakson tiga kali aja udah membuang banyak angin. Akhirnya mempengaruhi fungsi rem," kata Senior Investigator KNKT Achmad Wildan.

Praktisi keselamatan berkendara yang juga founder dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu mengatakan, sistem klakson telolet itu biasanya menggunakan angin yang seharusnya memasok sistem pengereman. Sebab, truk-truk besar sudah menggunakan sistem pengereman full air brake.

"Kalau kita bicara full air brake, memang sistem pengeremannya membutuhkan angin. Bahkan ketika mau start saja ketika tekanan anginnya kurang, itu parking brake-nya itu nggak mau release sehingga truk nggak mau jalan. Oleh karena itu harus menunggu 1-2 menit untuk naikin tekanan angin mencapai tekanan angin yang bisa merilis parking brake-nya," jelas Jusri.

Menurutnya, biasanya jika tekanan angin rem berkurang, akan ada alarm dari indikatornya. Namun, berkaca pada truk-truk di negara maju seperti di Amerika Serikat, Jusri menyebut ketika tekanan angin berkurang maka sistem air brake akan otomatis melakukan pengereman darurat. Jadi, truk tidak bisa dilajukan saat tekanan angin untuk pengereman berkurang.

"Kalau jalan sama, roda langsung ngunci setelah sebelumnya diberi peringatan. Apa yang harus dilakukan pengemudi ketika indikator rem anginnya berbunyi? Segera berhenti di tempat aman, tunggu beberapa saat sampai tekanan anginnya naik lagi. Karena kalau tidak, saat indikator menyala dan tekanan angin berkurang, langsung ngunci semuanya. Jadi ceritanya nggak ada blong kalau full air brake," katanya.

"Rem blong pada truk-truk yang menggunakan Full Air Brake System bukan karena angin yang kurang, melainkan dikarenakan sepatu rem terbakar karena penggunaan service brake (rem kaki) yang terlalu sering dan lama," lanjutnya.

Jusri juga mengingatkan soal kemampuan pengemudi truk. Dia bilang, pengemudi truk juga harus memahami cara kerja sistem pengereman sehingga tahu apa yang harus dilakukan.

"Pada intinya dengan bobot kendaraan dan muatannya yang berat, Full Air Brake System merupakan keharusan bagi angkutan barang truk dan penumpang. Namun, ini harus dibekali dengan seorang driver yang memiliki pengetahuan tentang safe braking dan tidak hanya sekadar dengan keterampilan semata," ujarnya.

Sementara soal klakson, Jusri menyarankan agar tidak menggunakan tekanan angin dari sistem pengereman. Sebab, penggunaan klakson yang mengambil angin dari sistem pengereman membuat tekanan angin cepat berkurang.

"Kalau mau dia harus bikin sendiri tabung sendiri yang diambil dari exhaust atau apa gitu. Tidak digabungkan dengan air brake tank," ucapJusri.



Simak Video "Terekam CCTV, Truk Tabrak 4 Kendaraan di Jombang dan Tewaskan 1 Orang!"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT