Cepat atau Lambat, Pertalite-Pertamax Dkk Bakal Ditinggalkan

ADVERTISEMENT

Cepat atau Lambat, Pertalite-Pertamax Dkk Bakal Ditinggalkan

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Minggu, 25 Sep 2022 16:05 WIB
Kenaikan BBM tidak menyurutkan warga untuk memburunya, ini terlihat di SPBU Jalan Demang Lebar Daun, Palembang, Sumsel.
Foto: Cepat atau lambat BBM fosil akan ditinggalkan (Dikhy Sasra/detikcom)
Jakarta -

Dunia membutuhkan kendaraan yang lebih ramah lingkungan. Kini, teknologi kendaraan bermotor terus berkembang. Ke depan, bahan bakar fosil akan ditinggalkan.

Sesuai dengan komitmen pemerintah pada Paris Agreement untuk menurunkan global warming, Indonesia harus memiliki kendaraan yang lebih ramah lingkungan. Industri otomotif nasional membangun pemahaman bahwa kendaraan masa depan yang akan lalu lalang di jalanan Indonesia adalah kendaraan bermotor yang memiliki dua syarat utama, yaitu:

- Kendaraan bermotor dengan emisi gas buang yang rendah dan ramah lingkungan.
- Kendaraan bermotor dengan penggunaan bahan bakar fosil yang makin berkurang untuk digantikan dengan bahan bakar nabati atau dengan bahan bakar baru dan terbarukan lainnya.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai, bahan bakar fosil cepat atau lambat akan segera berakhir. Pemerintah dan industri otomotif nasional telah memulai langkah-langkah transisi untuk menggantikan bahan bakar berbasis fosil menuju bahan bakar baru terbarukan. Contohnya, saat ini Indonesia telah menggunakan B30 di mana campuran nabati 30% adalah yang tertinggi di dunia.

Selain itu, kendaraan listrik menjadi salah satu opsinya. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri baru saja menerbitkan Inpres 7/2022 mengenai penggunaan kendaraan bermotor listrik di berbagai instansi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, Kementerian dan Lembaga termasuk BUMN. Gaikindo menilai, ini adalah suatu kewajaran, karena wewenang Pemerintah. Hal ini sejalan dengan wawasan Gaikindo dan industri otomotif nasional.

"Kendaraan bermotor listrik seperti HEV (Hybrid Electric Vehicle), PHEV (Plug-In Hybrid Electric Vehicle), BEV (Battery Electric Vehicle) ataupun FCEV (Fuel Cell Electric Vehicle) atau kendaraan bermotor yang menggunakan hydrogen sebagai bahan bakarnya adalah kendaraan bermotor masa depan yang saat ini keberadaannya semakin nyata," ujar Ketua Umum Gaikindo, Yohannes Nangoi dalam keterangan tertulis.

Kini, sudah banyak tersedia pilihan kendaraan listrik. Bahkan beberapa di antaranya sudah diproduksi di dalam negeri. Termasuk jenis kendaraan penumpang maupun komersial ringan. Harganya bervariasi, rentang kisaran Rp 200-300 juta, Rp 400-600 juta, hingga di atas Rp 600 juta. Ketersediaan merek dan varian kendaraan bermotor listrik tersebut akan terus dikembangkan dan disesuaikan dengan arah kebijakan Pemerintah.

"Gaikindo telah membuktikan eksistensi keberadaan kendaraan masa depan tersebut terhadap masyarakat. Pada kesempatan GIIAS 2022 pada Agustus 2022 lalu, selama 11 hari penyelenggaraannya, telah terjual total 1.594 unit kendaraan bermotor listrik, termasuk di dalamnya 320 kendaraan bermotor hybrid dan 1.274 unit kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB/BEV). Penjualan selama 11 hari tersebut melampaui total penjualan kendaraan bermotor listrik sepanjang tahun 2021," kata Nangoi.

Menurutnya, yang harus dicermati saat ini adalah adanya tantangan yang perlu dihadapi industri otomotif Indonesia ke depannya. Tantangannya adalah untuk terus meningkatkan jenis dan jumlah kendaraan bermotor listrik yang diproduksi di Indonesia, dan terus berkontribusi sebagai salah satu industri pahlawan devisa negara.



Simak Video "Mau Coba Ganti Merek Bensin, Perlu Kuras Tangki Nggak?"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/dry)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT