ADVERTISEMENT

Kerap Terlibat Kecelakaan Maut, Bus Pariwisata Banyak yang Belum Urus Perizinan

Tim detikcom - detikOto
Selasa, 20 Sep 2022 11:37 WIB
Bus pariwisata menabrak empat kendaraan dan tugu di turunan Pasar Kertek, Wonosobo, menewaskan enam orang, Sabtu (10/9/2022).
Bus pariwisata menabrak empat kendaraan dan tugu di turunan Pasar Kertek, Wonosobo, menewaskan enam orang, Sabtu (10/9/2022). (Foto: Uje Hartono/detikJateng)
Jakarta -

Bus pariwisata kerap menjadi penyebab kecelakaan maut. Belum lama ini, sebuah bus pariwisata mengalami kecelakaan hingga menewaskan tujuh orang di Wonosobo. Kementerian Perhubungan melakukan evaluasi.

Dalam keterangan tertulis seperti dikutip Antara, juga melakukan pembekuan izin kendaraan terhadap angkutan pariwisata yang tidak memenuhi ketentuan yang berlaku. Menurut Direktur Angkutan Jalan, Kemenhub, Suharto, banyak bus pariwisata yang belum urus perizinan.

"Selama masa Pandemi lalu banyak armada yang ada tidak dioperasikan, sehingga pada saat keadaan mulai kembali normal ada beberapa operator yang lupa memperhatikan kondisi kendaraan," kata Suharto.

Dari situ timbul masalah sampai terjadi kecelakaan maut. Direktorat Angkutan Jalan Kemenhub melakukan penertiban dengan melakukan evakuasi terhadap para operator.

"Hasil evaluasi tersebut, dari 854 perusahaan angkutan pariwisata memiliki 13.659 kendaraan. Dari jumlah tersebut sebanyak 7.802 kendaraan memiliki perizinan dan kelengkapan lainnya, sedangkan sebanyak 5.857 kendaraan atau sebesar 47 persen dari total angkutan pariwisata yang indisipliner dalam mengurus perizinan," kata Suharto.

Sebelumnya, Pengamat transportasi yang juga Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat Djoko Setijowarno menilai, perusahaan bus pariwisata yang terlibat kecelakaan juga perlu diusut. Jangan cuma menyalahkan sopir.

"Seperti halnya kecelakaan yang melibatkan angkutan pariwisata, menjadikan pengemudi menjadi tersangka. Hingga sekarang belum pernah ada pengusaha angkutan pariwisata yang ikut dipidana secara hukum. Walaupun sudah terang benderang kesalahan dokumen yang harus ditaati tidak dimiliki pihak pengusaha angkutan wisata, seperti uji berkala (kir) sudah melewati batas waktu dan izin penyelenggaraan sudah kadaluarsa," bilangnya.

Djoko menilai operator bus pariwisata juga bertanggung jawab terhadap keselamatan. Djoko menegaskan, pemilik kendaraan wajib melaksanakan rutin uji berkala (kir) dan memberikan risk journey(risiko perjalanan) kepada pengemudi.

"Tentunya, perusahaan angkutan wisata harus memilih pengemudi yang telah atau pernah melalui rute tujuan wisata yang dipesan oleh penyewa," ujarnya.

"Penyewa bus pariwisata seringnya menghendaki harga sewa yang murah terkait dengan ketersediaan anggaran yang terkumpul. Namun masyarakat yang mau berwisata juga harus disadarkan jika keselamatan menjadi hal yang sangat penting dalam berperjalanan," ucap Djoko.



Simak Video "Respons Sandiaga Uno atas Maraknya Kecelakaan Bus Pariwisata"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT