Ekspor Mobil RI Ditolak karena Standar Emisi, Kok Indonesia Ketinggalan Banget?

ADVERTISEMENT

Ekspor Mobil RI Ditolak karena Standar Emisi, Kok Indonesia Ketinggalan Banget?

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Jumat, 26 Agu 2022 12:55 WIB
Fokus Menuju Euro4
Foto: Indonesia baru menerapkan standar emisi Euro 4, padahal negara lain sudah Euro 5 sampai Euro 6. Luthfy Syahban
Jakarta -

Indonesia harus menelan pil pahit ketika ekspor mobil buatan dalam negeri ditolak negara lain karena mentok di standar emisi. Diketahui, mobil-mobil buatan Indonesia memang sudah menerapkan standar emisi Euro 4, tapi di luar negeri bahkan negara tetangga sudah lebih bersih lagi, menggunakan standar Euro 5 sampai Euro 6.

Standar emisi Euro 4 sendiri belum lama diterapkan di Indonesia. Untuk mesin bensin, Euro 4 diterapkan mulai tahun 2018. Sementara mesin diesel standar Euro 4 baru diterapkan April 2022 yang ditunda dari 2021 karena pandemi COVID-19. Padahal negara lain sudah lebih dulu menerapkan standar emisi yang bahkan lebih tinggi.

Sebagai contoh, Vietnam mulai tahun 2022 ini sudah menerapkan standar emisi Euro 5. Mobil buatan Indonesia seperti Honda Brio yang masih menerapkan Euro 4 tak lagi bisa diekspor ke Vietnam karena mentok di standar emisi.

"Kenapa di Indonesia sulit? Karena kita masih diatur mafia migas. Kalau di angka kita masih impor 17 kiloliter bensin, 5 juta kiloliter solar. Itu diatur oleh mafia migas agar kita tetap bisa impor BBM. Sayangnya, yang ada hanyalah BBM-BBM kotor yang sudah tidak digunakan di Eropa, di China, India, Thailand, Malaysia. Jadi mafia migas itu memang berusaha betul agar regulasi kita tersendat. Termasuk mengadopsi Euro 4 ini, jangankan Euro 5," kata Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin dalam konferensi pers 'Membangun Daya Saing dengan Standar Emisi untuk Percepatan Kendaraan Rendah Emisi di Indonesia', Kamis (25/8/2022).

Pria yang akrab disapa Puput itu menambahkan, untuk mengadopsi standar emisi yang lebih tinggi, yang dibutuhkan adalah bahan bakar yang lebih bersih. Sementara kendaraannya diharapkan bisa mengikuti.

"DI sisi lain, harus menghadapi tekanan dari prinsipalnya (prinsipal merek kendaraan di negara asalnya). Katakan di Jepang, Korea, China, mereka menghendaki tekanan dari prinsipalnya. Prinsipalnya punya standar ganda. Di negaranya sendiri dan negara-negara maju dijual yang teknologi tinggi, rendah emisi hemat BBM, tapi di Indonesia menjual yang kotor," komentar Puput.

Puput menyarankan, Indonesia sebaiknya langsung melompat mengadopsi standar emisi Euro 6, tak perlu ke Euro 5. "Karena Euro 5 itu sulfur kontennya sama ya, sama-sama maksimum 10 ppm. Yang membedakan kalau Euro 6 itu jauh lebih efisien karena ada satu parameter yang diatur, yaitu parameter karbondioksida. Semakin rendah karbondioksida, itu artinya kendaraan itu semakin efisien," katanya.

Dengan mengadopsi standar emisi yang lebih tinggi, dampaknya tidak hanya soal lingkungan yang lebih bersih. Industri otomotif dengan ekspor kendaraannya juga bisa terselamatkan.

""Standar euro kita terlambat untuk kita adopsi. Konsekuensinya tidak hanya soal lingkungan, tapi juga dalam konteks persaingan dagang. Banyak negara-negara di dunia melakukan strategi menggunakan standar emisi sebagai hambatan perdagangan baru dengan menggunakan isu lingkungan," ujar Puput.

"Jadi sayang kalau Indonesia tidak memanfaatkan isu ini dalam rangka memenangkan persaingan," katanya.



Simak Video "Ekspor Mobil 'Made in Indonesia' Meningkat, SUV Suzuki Kian Diminati"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT