Jakarta, Surabaya, Bandung Masuk Kota Termacet Asia, Ini Penyebabnya

ADVERTISEMENT

Jakarta, Surabaya, Bandung Masuk Kota Termacet Asia, Ini Penyebabnya

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Selasa, 05 Jul 2022 10:54 WIB
Ratusan kendaraan terjebak macet di kawasan Jalan Letjen Suprapto hingga Galur, Jakarta Pusat, Senin (6/6). Kemacetan terjadi sejak pukul 08.00 WIB yang didominasi warga berangkat kerja.
Jakarta jadi salah satu kota termacet di Asia (Foto: Pradita Utama/detikcom)
Jakarta -

Tiga kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Surabaya, dan Bandung, masuk dalam daftar kota termacet di Asia. Salah satu penyebabnya adalah terbatasnya angkutan umum.

Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat mengatakan, berdasarkan kajian Bappenas bersama Bank Dunia (2019), angkutan umum Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota lainnya rata-rata kurang dari 20 persen. Kota Jakarta, Surabaya dan Bandung masuk dalam kota termacet di Asia. Kota Jakarta menduduki peringkat 10dengan 53 persen tingkat kemacetan dibandingkan kondisi normal atau tidak macet di kota tersebut.

"Keterbatasan sistem angkutan umum massal menyebabkan kemacetan yang akhirnya berdampak pada kerugian ekonomi. Akibat kemacetan, peningkatan 1 persen urbanisasi di Indonesia hanya berdampak pada peningkatan 1,4 persen PDB per kapita. Kerugian ekonomi akibat kemacetan lalu lintas di Jakarta mencapai Rp 65 triliun per tahun. Pada 5 wilayah metropolitan (Bandung, Surabaya, Medan, Semarang, Makassar) kerugian mencapai Rp 12 triliun per tahun," kata Djoko dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom.

Beberapa sumber menyebutkan belanja transportasi warga dibanding penghasilan bulanan untuk Kota Beijing 7 persen, Paris 3 persen, Singapura ditekan menjadi kurang 3 persen. Sementara di banyak kota metropolitan dan besar di Indonesia rata-rata masih di atas 25 persen.

"Kendala pembenahan transportasi umum di daerah antara lain, masih minim keberpihakan kepala daerah pada program transportasi umum di daerah, masih ada kebijakan pemda belum mendukung program push strategy, sepeda motor yang mudah didapat, masa pandemi masih membuat warga khawatir menggunakan transportasi umum, minim sosialisasi penggunaan transportasi umum, fasilitas halte yang belum ada, fasilitas pejalan kaki masih kurang, tidak memiliki kartu pembayaran. Juga penetapan tarif yang hingga sekarang belum dilakukan, padahal operasional sudah hampir dua tahun," sebut Djoko.

Menurutnya, tingkat isian bukan satu-satunya penentu keberhasilan program angkutan perkotaan. Masih ada parameter lain pula yang dapat dilihat, seperti menurunnya belanja transportasi warga, polusi udara menurun, angka kecelakaan lalu lintas menjadi rendah, kemacetan lalu lintas berkurang, waktu perjalanan semakin cepat, tingkat kedisiplinan warga meningkat, penggunaan BBM menurun, kesejahteraan pengemudi terjamin, hingga ketepatan waktu terjamin.

"Di Indonesia, pengguna transportasi umum identik dengan kaum melarat alias kategori captive, tidak ada pilihan moda. Lain halnya di mancanegara, penggunanya adalah kaum konglomerat alias orang kaya, walau punya pilihan moda. Pasalnya, kesadaran akan manfaat transportasi umum yang dimulai adanya keputusan politik eksekutif dan legistatif untuk berpihak pada penyelenggaraan transportasi umum," ucap Djoko.

Lanjut Djoko, transportasi umum menjadi lebih menarik dan akan dilirik warga jika waktu perjalanan lebih cepat dibanding kendaraan pribadi. Selain itu, masyarakat akan memilih transportasi umum jika waktu tunggunya di bawah 10 menit; jangkauannya luas bisa mencapai semua catchment area; waktu layanannya sepanjang hari (dari awal kegiatan sampai akhir kegiatan), serta disediakan park and ride atau fasilitas lain, seperti membawa sepeda, tarifnya murah.

"Di sisi lain untuk menjamin keberlanjutan bisnis transportasi umum, memang perlu menggali lebih banyak lagi sumber alternatif pendanaan atau investasi demi untuk keberlanjutan program ini, sehingga dapat selalu memberikan layanan transportasi umum yang andal. Bukanlah hal yang mudah di tengah kekurangpedulian kepala daerah terhadap layanan transportasi umum di daerahnya," sebutujarnya.



Simak Video "Jakarta Nggak Termasuk, Ini 10 Kota Termacet di Dunia 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT