Rusia Ancam Ambil Alih Pabrik Mobil yang Ditinggalkan karena Perang, Bakal Dinasionalisasi

Ilham Satria Fikriansyah - detikOto
Minggu, 13 Mar 2022 07:08 WIB
People queue to a petrol station in Kyiv on February 24, 2022. - Russian President Vladimir Putin announced a military operation in Ukraine on Thursday with explosions heard soon after across the country and its foreign minister warning a
Rusia mengancam akan mengambil alih pabrik-pabrik otomotif yang ditinggalkan akibat invasi mereka ke Ukraina (AFP/GENYA SAVILOV)
Jakarta -

Sejumlah produsen otomotif dunia sudah menghentikan pengiriman dan menyetop produksi kendaraan di Rusia, yang membuat sejumlah pabrik kini kosong. Dalam kondisi tersebut, Rusia mengancam akan mengambil alih dan menguasai pabrik mobil asing tersebut.

Sejauh ini sudah banyak merek otomotif yang menghentikan penjualan mobil dan sepeda motor di Rusia. Berbagai produsen seperti Volkswagen, Toyota, Ford, dan Hyundai telah mengumumkan penutupan sementara waktu pabriknya di Rusia.

Bahkan, baru-baru ini pemerintah Jepang sudah menghimbau kepada para pekerja di pabrik Rusia untuk segera kembali ke Jepang. Salah satunya adalah Toyota yang mengevakuasi para pekerja mereka dari pabrik Toyota di St. Petersburg, Rusia.

Hal ini terjadi lantaran invasi besar-besaran yang dilakukan Rusia ke Ukraina. Selain dapat mengganggu rantai pasokan pengiriman dan produksi, cara ini sebagai wujud dukungan produsen otomotif kepada masyarakat Ukraina yang terdampak perang, serta pemberian sanksi tegas kepada Rusia.

Dilansir dari Automotive News, kini Rusia disebut bakal mengambil alih industri milik asing yang telah ditinggalkan, salah satunya dari sektor otomotif. Seorang anggota senior dari partai berkuasa Rusia telah mengusulkan nasionalisasi pabrik milik asing yang sudah berhenti beroperasi.

Dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan dari situs United Russia, sekretaris dewan umum partai yang berkuasa, Andrei Turchak, mengatakan penutupan pabrik milik asing ini adalah wujud perang terhadap warga Rusia.

Pernyataan Turchak ini merespon perusahaan makanan swasta asal Finlandia, Valio dan Paulig, yang baru-baru ini telah mengumumkan penutupan pabriknya di Rusia.

"United Russia tengah mengusulkan nasionalisasi pabrik milik perusahaan yang telah keluar dan menghentikan produksinya di Rusia selama operasi khusus di Ukraina," kata Turchak.


"Ini adalah tindakan ekstrem, tetapi kami tidak akan mentolerir penusukan dari belakang, dan kami akan melindungi warga kami," ujarnya.

Lebih lanjut, Turchak mengatakan sejumlah produsen asing yang telah hengkang dari Rusia merupakan bentuk perang nyata secara menyeluruh, termasuk dengan masyarakat Rusia.

Turchak pun mengatakan jika pihak Rusia bakal mengambil tindakan pembalasan yang lebih ekstrem lagi. Ia mengatakan jika Rusia bakal menindak sesuai dengan hukum perang yang berlaku.

"Kami akan mengambil tindakan pembalasan yang lebih keras, kami akan bertindak sesuai dengan hukum perang," tegas Turchak.

Simak Video 'Zelenskiy Sindir Rusia yang Terus Mendatangkan Pasukan Baru':

[Gambas:Video 20detik]



(din/din)