ADVERTISEMENT

Catat! Ini Jam Paling Macet di Jakarta

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Senin, 21 Feb 2022 08:28 WIB
Jakarta -

Jakarta dinilai telah sukses keluar dari 10 besar kota termacet di dunia. Tahun 2021 lalu, Jakarta hanya menempati urutan ke-46 kota termacet di dunia.

Hal itu berdasarkan TomTom Traffic Index. Dari data terbaru yang menilai tingkat kemacetan tahun 2021, Jakarta tak masuk 10 kota termacet di dunia. Tahun 2021, posisi Jakarta turun ke peringkat 46. Padahal tahun 2020 Jakarta menempati posisi ke-31 kota termacet dari total 416 kota di dunia. Dan pada tahun-tahun sebelumnya Jakarta menempati 10 besar kota termacet di dunia.

TomTom menilai, pada 2021 Jakarta memiliki tingkat kemacetan 34%. Angka itu turun sedikit dari tahun sebelumnya yang tercatat 36%.

"Pada 2021, terjadi penurunan tingkat kemacetan di Jakarta. Data menunjukkan waktu perjalanan rata-rata berkurang 2 menit per hari," sebut TomTom dalam hasil TomTom Traffic Index 2021.

"Tingkat kemacetan34% berarti bahwa rata-rata, waktu perjalanan34% lebih lama dibandingkan dengan kondisi normal tanpa kemacetan. Artinya, perjalanan 30 menit dalam kondisi jalanan lancar akan memakan waktu 10 menit lebih lama saat tingkat kemacetan 34%," jelasnya.

TomTom Traffic Index juga menilai jam paling macet di jalanan Jakarta. Menurut TomTom, setiap sore hari sekitar pukul 17.00 sampai 18.00 menjadi jam paling padat yang perlu dihindari para pengendara. Adapun waktu paling macet di Jakarta adalah Senin dan Jumat pada pukul 17.00 yang tingkat kemacetannya mencapai 67%.

Sementara pada Selasa sampai Kamis sore pukul 17.00, tingkat kemacetannya lebih rendah berkisar antara 62%-64%. Setelah pukul 18.00, tingkat kemacetan cenderung turun ke angka 62% samai 55%.

"Berkendara sebelum pukul 17.00 pada Senin bisa menghemat waktu 4 jam per tahun (untuk setiap perjalanan 30 menit)," sebut TomTom.

Sedangkan pada pagi hari, tingkat kemacetan tertinggi terjadi pada Senin pukul 08.00. Pada waktu tersebut, tingkat kemacetan di Jakarta tercatat mencapai 43%.

Data Indeks Lalu Lintas berasal dari komunitas TomTom yang berkembang dengan lebih dari 600 juta pengemudi yang menggunakan teknologi TomTom di perangkat navigasi, sistem di dalam mobil dan smartphone di seluruh dunia.

Persentase tingkat kemacetan lalu lintas mewakili jumlah waktu perjalanan tambahan. TomTom memulai perhitungan dari waktu perjalanan dalam kondisi normal tanpa kemacetan di setiap segmen jalan di setiap kota. Kemudian dibandingkan kondisi dengan kemacetan.

"Kami menghitung baseline per kota dengan menganalisis waktu tempuh tanpa kemacetan di seluruh jaringan jalan-tercatat 24/7, 365 hari setahun. Informasi ini memungkinkan kami untuk juga menghitung, misalnya, berapa banyak waktu tambahan yang akan dihabiskan pengemudi di lalu lintas selama jam sibuk di Bangkok," sebut TomTom.

(rgr/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT