Kecelakaan Truk Banyak Terjadi karena Sopir Kurang Terampil dan Terlalu Pede

Luthfi Anshori - detikOto
Senin, 31 Jan 2022 12:24 WIB
Sopir Truk Tronton Balikpapan Tersangka, Ini Fakta Terbaru Kecelakaan Maut
Kecelakaan truk di Simpang Rapak, Balikpapan (21/1/2022). Foto: dok. Istimewa
Purwakarta -

Industri transportasi logistik belakangan ini jadi sorotan lantaran sering terjadinya kecelakaan fatal yang diakibatkan truk kontainer mengalami rem blong. Kementerian Perhubungan menilai bahwa sebagian besar kecelakaan truk maupun bus terjadi karena pengemudinya kurang terampil.

"Keselamatan berkendara menjadi hal yang sangat penting, apalagi sekarang ini semakin banyak kecelakaan terjadi. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan di antaranya menyangkut masalah human error, faktor kendaraan, dan juga faktor lingkungan," kata Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi, saat memberi sambutan secara virtual di opening ceremony Hino Total Support Customer Center (HTSCC) di Purwakarta (27/1/2022).

Menurut pandangan Budi, human error menjadi faktor utama dalam setiap kecelakaan yang melibatkan truk maupun bus. Budi mengatakan bahwa insiden kecelakaan yang terjadi akibat dari sopir tidak memiliki keterampilan yang memadai.

"Saya belum melakukan suatu evaluasi data yang konkret yang real, tapi menurut saya sebagian besar (kecelakaan truk-bus yang terjadi karena human error), karena kemampuan pengemudi yang kurang terampil, kemudian ada kaitan dengan hubungan emosional, ada juga kaitannya menyangkut masalah disiplin, dan juga kesadaran," sambung Budi.

"Jadi pengemudi ini menurut saya adalah suatu hal yang harus bersama-sama kita tingkatkan kapasitasnya, sehingga mereka selain terampil menggunakan kendaraan, juga mempunyai performa yang baik. Seperti 'mohon maaf' ya bagaimana pengemudi-pengemudi di Jepang, pengemudi bus, pengemudi truk begitu performanya cukup bagus. Artinya, perilaku dalam berkendaranya cukup bagus. Jadi ini saya kira jadi tantangan yang besar bagi negara kita saat pemerintah sedang memperbaiki dari sisi regulasi, iklim transportasi yang berkeselamatan, tentunya teman-teman dari APM dan juga dari operator juga harus sejalan dengan kami," tambah Budi.

Sopir Truk Terlalu Percaya Diri (Pede)

Untuk mencegah kecelakaan melibatkan truk, Budi mengatakan Kemenhub sudah menyampaikan beberapa technical guidance untuk safety driving. Tapi panduan tersebut kerap diabaikan pengemudi.

"SOP pengecekan kendaraan ini saya kira menjadi suatu hal yang harus dilakukan, tapi mungkin betapa para pengemudi kita ini, apakah mungkin saking pedenya, percaya diri, apakah mungkin karena kebiasaan kurang baik. Jadi begitu mau menjalankan kendaraan, tidak pernah melakukan yang namanya checking terhadap kondisi kendaraan itu. Seperti bagaimana dengan remnya, bagaimana dengan bannya, bagaimana dengan (sistem) penerangannya, dan lain sebagainya," kata Budi.

"Masalah pengecekan di awal sebelum memulai pekerjaan ini menjadi penekanan utama dari kita semuanya. Kemudian memastikan pengemudi dalam keadaan sehat, berikutnya mematuhi peraturan lalu lintas, dan penggunaan perlengkapan keselamatan di kendaraan, serta berkendara dengan aman," bilang Budi.

(lua/rgr)