Video 20Detik

Terungkap! Klakson Telolet Salah Satu Penyebab Kecelakaan Truk Balikpapan

Luthfi Anshori - detikOto
Sabtu, 29 Jan 2022 10:23 WIB
Jakarta -

Kecelakaan truk kontainer di Balikpapan masih menimbulkan tanda tanya terkait penyebab truk mengalami rem blong. Menurut Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Achmad Wildan, salah satu penyebab truk tersebut mengalami rem blong adalah karena menggunakan klakson telolet.

Dari hasil investigasi, Wildan membeberkan temuannya dari pengakuan sang sopir. Setidaknya ada 3 hal yang menjadi sorotan.

Dijelaskan oleh Senior Investigator KNKT, Achmad Wildan, kecelakaan yang terjadi di Balikpapan dipastikan terjadi akibat kasus angin tekor, yang mengakibatkan rem truk tersebut tidak berfungsi.

Dari hasil investigasi, Wildan menjabarkan ada tiga temuan yang berhasil dikulik dari pengakuan sopir truk tersebut.

"(Kejadian truk kecelakaan) di Balikpapan akan saya sampaikan faktualnya. Pertama, pengemudi pada saat masuk turunan itu menggunakan gigi empat. Sekalipun (dia) ngomong sehabis itu dia masuk gigi tiga, saya tidak percaya. Karena saya kan pengemudi juga, saya asesor kompetensi pengemudi, jadi saya paham betapa sulitnya memindahkan gigi ketika di turunan dalam kondisi pedal kopling nggak bisa diinjak," buka Wildan di Purwakarta, Kamis (27/1/2022).

"Kemudian pengemudi menjelaskan, jarum rpm menunjuk angka 5, pedal rem keras. Oke, berarti di sini masalahnya angin tekor. Saya minta tim investigator ngecek, coba cek gap atau celah kampas dengan rem, ketemu, (ada gap) lebih dari 2 mm," lanjut Wildan.

Selain itu, Wildan menjelaskan terkait klakson telolet yang dipasang pada truk. Klakson telolet itu menggunakan angin dari tabung yang sama dengan tabung angin untuk kebutuhan rem.

"Apalagi temuannya? Dipasang klakson telolet. Nah di situ, dua titik tadi itu menunjukkan dia boros (angin). Karena pada saat dia turun, pengemudi itu nggak sempat ngisi (angin)," jelas Wildan.

"Jadi gini, celah rem, kampas dengan tromol sama klakson telolet, itu ketika beroperasi di jalan mendatar nggak masalah. Karena buang angin, nanti diisi lagi, kan ngegas terus. Tapi pada saat jalan turun, nggak akan punya kesempatan ngisi (angin). Hanya buang aja. Begitu buang tanpa ngisi, saya yakin dua tiga kali injekan, dua tiga kali nglakson selesai. Dia nggak bisa lagi nginjak pedal rem. Nah itulah kasus yang terjadi di Balikpapan. Jadi kasusnya adalah angin tekor," katanya lagi.

Diketahui kejadian truk maut di Simpang Rapak itu terjadi pada Jumat (21/1) lalu. Mengakibatkan 4 orang tewas dan 30 lainnya luka berat dan ringan.

(rmi/rmi)