Studi Harvard: Angka Kematian Akibat Emisi Karbon Kendaraan Turun

Ilham Satria Fikriansyah - detikOto
Senin, 20 Des 2021 11:51 WIB
Thick smoke pours from the exhaust pile on a car. Shallow depth of field, focus on the end of the tail pipe. Closeup view.
Korban jiwa akibat emisi dari kendaraan menurun. Foto: Getty Images/iStockphoto/madsci
Jakarta -

Emisi karbon yang dihasilkan dari sebuah kendaraan ternyata sangat berbahaya dan telah menyebabkan pencemaran udara hingga korban jiwa. Namun, studi terbaru menunjukkan angka kematian akibat emisi karbon mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Dikutip dari Carscoops, sebuah penelitian terbaru dari Harvard University menunjukkan jumlah kematian akibat emisi kendaraan di Amerika Serikat turun cukup signifikan. Penelitian tersebut muncul dalam makalah yang telah diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America.

Dalam jurnal tersebut, angka kematian akibat emisi kendaraan di AS turun dari 27.700 orang di tahun 2009, kini menjadi 19.800 orang pada tahun 2017.

Hasil studi tersebut tak hanya menunjukkan angka kematian yang berkurang nyaris mencapai 8.000 orang dalam periode sembilan tahun, namun juga membantu menangani masalah emisi karbon yang buruk selama beberapa tahun terakhir.

Diprediksi, angka kematian tersebut bisa saja naik 2,4 kali lipat pada 2017 jika tingkat emisi karbon pada sebuah kendaraan masih tinggi dan belum dibenahi. Diyakini selama periode waktu yang sama jumlah kematian bisa menyentuh hampir 47.520 korban akibat emisi karbon.

Studi terbaru ini menggunakan pembuktian epidemiologi dan inventaris emisi untuk bisa mendapatkan hasil perkiraan. Selain itu, efek dari menurunnya angka korban jiwa akibat emisi karbon juga berdampak dari sisi kesehatan, di mana Amerika Serikat berhasil memperoleh keuntungan ekonomi sebesar US$ 270 miliar atau setara Rp 3,8 kuadriliun.

Memang, menurunnya angka emisi karbon sangat berdampak pada sisi kesehatan. Bahkan diprediksi, keuntungan yang didapat bisa lebih tinggi lagi.

"Meskipun ada kemajuan substansial dalam pengurangan emisi, namun terdapat efek berlawanan dari populasi dan kendaraan yang lebih besar," kata Ernani Choma selaku pemimpin penulis jurnal.

"Jadi akan sulit mencapai kemajuan substansial jika kita tidak memberlakukan kebijakan lebih ketat," ujarnya.

Selain itu, manfaat ke lingkungan dari perbaikan industri otomotif tidak sebesar manfaat kesehatan yang didapat. Menurut para ahli, pendekatan untuk mengurangi emisi karbon kendaraan lebih fokus pada mengurangi polusi udaranya, bukan ke perubahan iklim.

Untuk itu, para peneliti merekomendasikan adanya kebijakan yang lebih ketat untuk membantu mengatasi perubahan iklim. Jika tidak ada tindakan keras, diprediksi ke depannya akan terjadi masalah baru yang bisa menyebabkan krisis kesehatan lagi.



Simak Video "Tak Ada Tanda Khusus pada Kendaraan yang Sudah Diuji Emisi, Bagaimana Ceknya?"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/lth)