Tekor! Kerugian karena Macet di Gerbang Tol Tembus Rp 4,4 Triliun Per Tahun

Luthfi Anshori - detikOto
Rabu, 08 Sep 2021 15:32 WIB
Kendaraan dari Jakarta mengarah ke Merak terpantau padat merayap saat melewati di Gerbang Tol Cikupa, Banten, Kamis (5/5/2021). Kondisi ini bertepatan dengan Hari pertama pembatasan kendaraan mudik 2021.
Kemacetan di gerbang tol bisa timbulkan kerugian 4,4 triliun per tahun. Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Kemacetan tidak hanya terjadi di jalan raya atau jalan umum di kota-kota besar. Kemacetan juga bisa terjadi di jalan bebas hambatan (tol) sekalipun. Macet di jalan tol bisa terjadi di gerbang masuk atau gerbang keluar tol. Kemacetan di pintu tol ini disebut-sebut bisa menimbulkan kerugian yang tidak sedikit, bahkan kerugian bisa mencapai triliunan rupiah per tahun.

"Menurut data yang dikeluarkan World Bank di tahun 2019, kerugian akibat kemacetan di Indonesia mencapai sejumlah 4 miliar USD setara Rp 56 triliun. Dan spesifik untuk kerugian akibat antrean di gerbang tol, ada potential loss dari seluruh badan usaha jalan tol, berdasarkan feasibilities study yang kita buat, itu keluar angka sebesar 300 juta USD atau sekitar Rp 4,4 triliun per tahun," ungkap Emil Iskandar, Chief of Business Development PT Roatex Indonesia Toll System, dalam diskusi publik yang diselenggarakan Instran dan YLKI secara offline dan online, Rabu (8/9/2021).

Untuk mengatasi masalah itu, Indonesia bersiap menerapkan sistem pembayaran tol tanpa henti (nirsentuh), dengan menggunakan teknologi GNSS (Global Navigation Satelite System) dan proses transaksi dilakukan melalui sebuah aplikasi khusus. Sistem pembayaran tanpa henti yang rencananya diterapkan tahun depan ini akan menghilangkan fungsi gerbang masuk dan gerbang keluar tol.

Perusahaan asal Hungaria, Roatex Ltd telah ditetapkan sebagai pemenang tender yang akan menggarap sistem transaksi tol tanpa setop ini. Ada tiga cara transaksi pada sistem Multi Lane Free Flow (MLFF) atau sistem bayar tol tanpa berhenti. Sistem MLFF dengan GNSS ini akan mengenali dan mengidentifikasi kendaraan pengguna, sehingga transaksi dapat dilakukan secara langsung tanpa berhenti, lebih cepat, dan efisien, tanpa antrean dan tundaan transaksi.

Menurut Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, MLFF akan diterapkan di 40 ruas tol yang tersebar di Pulau Jawa-Bali pada 2022. Dan setahun berikutnya, MLFF diharapkan bisa diaplikasikan di seluruh jaringan jalan tol di Indonesia.

"Diharapkan sistem transaksi nirsentuh MLFF akan 100% Go-Live di seluruh jaringan jalan tol Indonesia pada tahun 2023. Pada saat itu tidak akan ada lagi Gardu Tol karena pengguna jalan tol akan terhubung dengan satelit untuk proses pembayaran penggunaan Jalan Tol," jelas Basuki, dalam webinar ITS Indonesia yang digelar secara virtual, Juni 2021 lalu.

(lua/din)