Kenapa Kursi Sleeper Bus Tidak Bisa Direbahkan Secara Rata? Ini Alasannya

Luthfi Anshori - detikOto
Kamis, 15 Jul 2021 08:45 WIB
Sleeper Bus CV Laksana
Kursi sleeper bus tidak bisa direbahkan secara rata karena alasan keselamatan. Foto: Rizki Pratama
Jakarta -

Sleeper bus menjadi transportasi yang bisa dipilih konsumen ketika ingin bepergian keluar kota. Sleeper bus mirip seperti hotel kapsul yang bisa berjalan. Namun, meski sangat nyaman untuk tidur, kursi sleeper bus ternyata tidak bisa direbahkan secara full lho. Kursi sleeper bus hanya bisa direbahkan dengan kemiringan sekitar 150 derajat. Apa alasannya ya?

Seperti dijelaskan Brand & Marketing Communication Manager Laksana, Candra Dewi, ada dua faktor yang membuat kursi sleeper bus tidak bisa diratakan seperti kasur. Faktor ini terkait dengan aspek keselamatan dan kapasitas penumpang.

"Ada dua faktor, yang pertama ini terkait dengan regulasi yang ada saat ini di Indonesia. Dan yang kedua, kita lihat dari segi kenyamanan (kemiringan) 150 derajat ini sudah sangat nyaman sekali (untuk penumpang), namun di sisi lain secara kapasitas bisa lebih maksimal," kata Dewi, kepada detikOto, Rabu (14/7/2021).

Posisi kursi yang tidak terlalu rebah memang sangat penting untuk safety, karena hal itu bisa membuat penumpang tetap siaga, terutama ketika terjadi kondisi darurat, yang mengharuskan penumpang bergerak cepat.

Di sisi lain, unsur safety di sleeper bus seperti model Laksana Legacy SR2 Suites Class sudah dibuat sesuai dengan standar safety seperti bus-bus di Eropa.

"Secara kekuatan rangka (sleeper bus) kita sudah sesuai dengan standar Eropa R66, untuk standar kekuatan kursi dan pemasangannya kita sudah sesuai dengan standar Eropa R80, dan untuk kestabilan bus kami juga sudah sesuai dengan standar Eropa R107. Standar keselamatan ini kami perkenalkan, meskipun secara regulasi belum diwajibkan untuk di Indonesia. Untuk fitur-fitur keselamatan lain yang sesuai aturan kita sudah lengkapi semuanya seperti safety belt, palu pemecah kaca, alat pemadam api ringan, dan lain-lain," tukas Dewi.

(lua/din)