7 Juta Orang Masih Ingin Mudik, Banyak yang Curi Start Sebelum Dilarang

Tim detikcom - detikOto
Rabu, 21 Apr 2021 18:55 WIB
Terminal Cicaheum, Kota Bandung, mulai didatangi oleh warga dari luar kota. Tak sedikit warga yang datang untuk merayakan hari pertama puasa bersama keluarga.
Mudik dilarang, tapi menurut survei ada 7 juta orang ingin mudik. Banyak yang curi start mudik sebelum periode larangan. Foto: Wisma Putra
Jakarta -

Pemerintah melarang mudik Lebaran tahun ini. Namun, masih banyak masyarakat yang ingin pulang kampung. Bahkan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengatakan menurut survei jutaan orang masih ingin mudik.

Menurut juru bicara Menteri Perhubungan Adita Irawati, meski mudik sudah diumumkan akan dilarang pada 6-17 Mei 2021, masih ada sekitar 7 juta orang yang berkeinginan mudik. Hal itu juga diamini oleh Koordinator Jaringan Aksi Keselamatan Jalan (Jarak Aman), Edo Rusyanto.

"Survei menyebutkan sekitar 7 juta. Kalau kita tahu di musim-musim mudik datanya Kemenhub sekitar 35-an juta orang bergerak pada saat musim mudik normal (sebelum pandemi). Artinya kalau disurvei ada 7 juta, jangan-jangan yang di luar survei ini masih banyak," kata Edo dalam diskusi "Bahaya Covid Masih Mengintai, Sayangi Keluarga di Kampung Dengan Tidak Mudik" yang ditayangkan di Youtube BNPB Indonesia, Rabu (21/4/2021).

Menurut Edo, berdasarkan temuan di lapangan, masyarakat masih banyak yang ingin mudik. Bahkan, ada yang nekat mudik sebelum periode larangan mudik.

"Fakta di lapangan, itu ada juga pergerakan sebelum waktunya. Kan yang dilarang tanggal 6-17 Mei, faktanya memang ada pergerakan sebelum tanggal itu," ujar Edo.

Dari fakta itu, Edo menyoroti poin penting bahwa masyarakat perlu saling mengingatkan risiko mudik di tengah pandemi COVID-19.

"Kami ini di komunitas pengguna kendaraan bermotor, pentingnya saling mengingatkan sesama masyarakat menurut kami perlu ada dua pendekatan. (Pertama) apa sih risikonya. Karena di masyarakat juga masih perlu terus ditingkatkan tentang risiko terpapar COVID. Itu perlu kita ingatkan bahwa anggapan-anggapan lain yang menganggap tidak terlalu berisiko itu perlu terus kita ingatkan. Gerakan kami adalah bagaimana memperkecil risiko," sebut Edo.

Yang kedua, lanjut Edo, yang diperlukan adalah gerakan keselamatan. Selain kesehatan, menurut Edo, pihaknya ingin masyarakat tetap selamat.

"Bagi kami ketika momentum mudik itu salah satu upaya untuk terus mengingatkan orang kalau terpaksa bermobilitas dia harus tetap memprioritaskan keselamatan. Misalnya mereka dianggap boleh bermobilitas dalam rentang waktu (larangan mudik) itu, kemudian jalanan misalnya agak berkurang tingkat traffic-nya, terus jadi lengah berkendara. Kami ingatkan bahwa kalau terpaksa berkendara tetap memprioritaskan keselamatan," katanya.



Simak Video "Dilema Korlantas soal Boleh atau Tidaknya Mudik Sebelum 6 Mei"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)