Bamsoet Pilih Hyundai IONIQ Jadi Official Car IMI, Ini Alasannya

Inkana Putri - detikOto
Sabtu, 06 Feb 2021 16:53 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Foto: MPR)
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo sekaligus Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) memilih mobil listrik Hyundai IONIQ sebagai official car IMI. Adapun hal tersebut merupakan apresiasi karena Hyundai dapat menghadirkan mobil listrik dengan harga jual terjangkau, yakni sekitar Rp 600 jutaan.

Bamsoet juga mengatakan saat ini Hyundai telah memindahkan pabriknya ke Indonesia, serta turut mengembangkan kendaraan ramah lingkungan.

"Dan yang terpenting adalah, pabrikasi mobil Hyundai ini telah memindahkan pabrik dan operasionalnya dari Malaysia ke Indonesia. Sekaligus telah mewujudkan komitmen investasi sebesar USD 1,5 miliar untuk mengembangkan kendaraan ramah penumpang dan lingkungan di Indonesia, yang ditunjukkan melalui pembangunan pabrik perakitan di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, yang ditargetkan beroperasi optimal pada tahun 2022," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (6/2/2021).

Lebih lanjut Bamsoet menyampaikan alasan lain IMI memilih Hyundai IONIC lantaran kendaraan tersebut full electric (mobil listrik) dan ramah lingkungan. Di samping itu, Hyundai mendukung program pemerintah untuk mempercepat migrasi dari penggunaan BBM dari fosil dengan tenaga listrik.

"Pertama, IMI sebagai organisasi bermotor di Indonesia akan mendukung program pemerintah dan pelopor penggunaan kendaraan listrik, sekaligus mengurangi pemakaian bahan bakar fosil yang ada sekarang," katanya.

Kedua, untuk mengurangi beban subsidi BBM di APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara). Pasalnya, semakin banyak yang menggunakan kendaraan listrik maka konsumsi BBM menjadi berkurang.

Ketiga, meningkatkan saving atau tabungan masyarakat karena dapat mengurangi beban pengeluaran rumah tangga atas biaya servis bulanan kendaraan dan pengeluaran rutin harian untuk membeli BBM (bensin).

Keempat, ramah lingkungan dan go green merupakan salah satu program unggulan IMI Pusat. Kelima, electric car akan menjadi kendaraan masa depan, di mana bahan bakar fosil akan segera habis dalam beberapa tahun ke depan.

"Menggunakan kendaraan bermotor listrik juga bagian dari dukungan IMI terhadap program Presiden Joko Widodo dalam mempercepat era elektrifikasi pada kendaraan bermotor, sebagaimana tertuang dalam Perpres 55/2019. Sekaligus merangsang berbagai produsen otomotif lainnya untuk mempercepat komitmen mereka dalam memproduksi kendaraan bermotor listrik, menggantikan kendaraan konvensional berbahan bakar minyak," katanya.

Ketua DPR RI ke-20 ini juga menjelaskan dengan menggunakan kendaraan bermotor listrik, masyarakat telah membantu pemerintah mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak (BBM). Hal ini mengingat dalam periode 2014-2019, jumlahnya mencapai Rp 700 triliun. Sementara itu, di APBN 2021, subsidi untuk BBM jenis tertentu mencapai Rp 16,6 triliun.

"Semakin banyak kendaraan yang tidak lagi menggunakan BBM, subsidinya bisa dialihkan untuk sektor penting lainnya, seperti pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur," jelasnya.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menuturkan selain sebagai kendaraan masa depan yang ramah lingkungan, masyarakat juga bisa menghemat pengeluaran dengan menggunakan kendaraan bermotor listrik.

Berdasarkan beberapa riset, tercatat rata-rata sebuah sedan yang dikemudikan sejauh 15.000 mil akan menghabiskan rata-rata USD 6.957. Sedangkan, kendaraan bermotor listrik dengan jarak tempuh yang sama hanya membutuhkan sekitar USD 540.

"Biaya perawatannya juga sangat rendah, sekitar 35 persen dibanding kendaraan berbahan bakar minyak, lantaran tak adanya komponen tertentu seperti oli, filter oli, busi, dan katup engine. Sehingga pengeluaran yang tadinya untuk kendaraan, bisa dialihkan untuk pendidikan, kesehatan, dan belanja rumah tangga lainnya," paparnya.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini pun yakin selain Hyundai, nantinya akan banyak produsen otomotif lain yang memproduksi kendaraan listrik di Indonesia. Dengan demikian, maka akan semakin banyak transfer teknologi yang dilakukan dan menyerap banyak lapangan pekerjaan. Ditambah Indonesia memiliki cadangan bijih nikel terbesar dunia, yang merupakan bahan baku utama komponen baterai di kendaraan bermotor listrik.

"Bahkan tak menutup kemungkinan, perusahaan dalam negeri bisa memproduksi sendiri kendaraan listrik sebagai karya anak bangsa. Mengingat proses produksinya tak sesulit pada kendaraan konvensional. Direktorat Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian mencatat kendaran listrik hanya didukung 20 ribu komponen, sementara kendaraan konvensional ditopang 30 ribu komponen," pungkasnya.

(fhs/ega)