Potensi Bahaya saat Pesawat Kelamaan Parkir

Tim detikcom - detikOto
Minggu, 10 Jan 2021 13:31 WIB
Pesawat Sriwijaya Air PK-CLC yang hilang kontak di Kepulauan Seribu (dok jetphotos.com via flightradar24))
Foto: Pesawat Sriwijaya Air PK-CLC yang hilang kontak di Kepulauan Seribu (dok jetphotos.com via flightradar24))
Jakarta -

Pesawat Boeing milik Sriwijaya Air jatuh tak lama setelah lepas landas dari Soekarno-Hatta. Sejumlah ahli sempat mewanti-wanti ratusan pesawat yang kembali beroperasi usai dilarang terbang selama berbulan-bulan karena pandemi virus Corona.

Pengamat Penerbangan Alvin Lie menegaskan bahwa jatuhnya Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak di perairan Pulau seribu tak ada kaitannya dengan usia pesawat.

"Walaupun pesawat usianya sudah 26 tahun, tapi asal perawatannya baik tidak ada masalah. Kemudian pesawat ini juga pernah dikandangkan oleh Sriwijaya antara 23 Maret sampai tanggal 23 Oktober, tahun lalu. Setelah itu sudah aktif lagi terbang," kata Alvin Sabtu, (9/1/2021) dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV.

Tapi maskapai diminta berhati-hati saat menghidupkan kembali armada pesawatnya. Usai berbulan-bulan dikandangkan, tidak hanya pesawat tetapi juga sumber daya manusia (SDM).

Dicuplik Reuters, Minggu (10/1/2021) potensi bahaya yang muncul di antaranya; pilot rustiness (menurunnya keterampilan sebab jarang terbang), kesalahan perawatan, dan bahkan serangga yang membuat sarang hingga bisa memblokir sensor-sensor utama pesawat.

Menurut data International Air Transport Association (IATA) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pendaratan yang tak mulus di suatu bandara pada tahun ini. Hal ini dapat mengakibatkan pendaratan yang keras, landasan pacu melampaui batas (pesawat tergelincir keluar) atau bahkan tabrakan.

Selain itu, Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa (European Union Aviation Safety Agency / EASA) telah melaporkan "tren yang mengkhawatirkan" dalam jumlah laporan pembacaan kecepatan dan ketinggian yang tidak sesuai selama penerbangan pertama setelah pesawat meninggalkan penyimpanan. Dalam beberapa kasus pesawat batal terbang atau harus kembali ke pangkalan.

Beberapa kejadian menunjukkan bahwa data kecepatan dan ketinggian tidak sesuai. Ini disebabkan sensor yang kotor lantaran serangga atau kotoran lain yang menghambat pitot tube (tabung pitot).

Dalam laporan Reuters, sarang serangga yang tidak terdeteksi dalam tabung pitot pesawat --instrumen berlubang di bagian luar pesawat yang berguna untuk mengukur kecepatan udara-- bisa membahayakan pesawat. Bagi tawon, tabung pitot adalah rongga yang sempurna untuk membangun sarang.

Menurut Bloomberg, pesawat yang diparkir tetap dirawat dengan memanaskan mesinnya secara berkala,serta menyalakan sistem perangkat elektronik untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Jika tidak, mesin dan sensor harus tetap tertutup untuk melindunginya dari debu dan pasir.

Maskapai mungkin memutuskan untuk menyimpan bahan bakar di tangki pesawat agar tetap terlumasi. Selain itu harus meletakkan cairan hidrolik pada roda pendaratan untuk mencegah karat, dan memutar roda pesawat setiap beberapa minggu dengan menariknya di sekitar landasan atau mendongkrak dan memutarnya.

Berdasarkan grafik kecepatan dan informasi lainnya, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 kehilangan ketinggian secara drastis.

"Pesawat kehilangan ketinggian secara drastis pada ketinggian 10 ribu kaki, sedangkan kecepatan vertikal atau kecepatan turunnya mendekati 30 ribu kaki per menit. Jadi kalau ada di ketinggian 10 ribu kaki, pesawat terhempas ke permukaan hanya butuh sepertiga menit atau 20 detik," imbuh Alvin.

Sriwijaya Air kehilangan ketinggian secara drastis

Berdasarkan grafik kecepatan dan informasi lainnya, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 kehilangan ketinggian secara drastis.

Kemungkinan besar, lanjut Alvin, ketika pesawat turun, kehilangan ketinggian sedemikian cepat, pesawat sudah tidak dapat dikendalikan. Jika ditanya soal kemungkinan penyebab pesawat jatuh, Alvin mengungkapkan kemungkinan cuaca buruk tidak dapat jadi alasan.

"Untuk unsur cuaca, rasa-rasanya nggak segitunya (pesawat sampai kehilangan ketinggian drastis) karena di saat yang sama banyak pesawat melakukan penerbangan di wilayah yang sama," jelasnya.

Kemungkinan lain, pesawat mengalami masalah dengan sistem kendali. Kalau masalah terjadi pada mesin, kondisi jatuhnya pesawat tidak akan seperti yang dialami Sriwijaya Air SJ182.

Alvin menjelaskan jika mesin bermasalah, pesawat masih bisa melayang, begitu pula jika dua mesin mati. Pesawat masih bisa melayang dan dikendalikan untuk mendarat darurat.

Alvin juga sempat mengecek tidak ada may day call atau panggilan darurat. Pilot pun tidak melaporkan kerusakan atau kondisi darurat ke pihak air traffic controller (ATC) atau pengatur lalu lintas penerbangan.

"Kemungkinan ini terjadi sedemikian cepat dan mendadak, sehingga pilot tidak sempat berbuat apa-apa," imbuhnya.



Simak Video "RS Polri Terima 12 Laporan Keluarga Korban Sriwijaya Air SJ182"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/lua)