Puncak Macet Terus, Pemerintah Mungkin Bikin Kereta Tanpa Rel untuk Angkut Pengunjung

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Selasa, 29 Des 2020 11:53 WIB
Polisi mengatur lalu lintas kendaraan yang  memadati ruas jalan jalur Wisata Puncak,  Kabupaten Bogor, Jawa Barat,  Sabtu (31/10/2020). Pada cuti bersama serta libur panjang Maulid Nabi Muhammad SAW hari ke-empat jalur wisata Puncak Bogor masih dipadati kendaraan wisatawan, Sat Lantas Polres Bogor memberlakukan rekayasa lalu lintas sistem satu jalur atau one way untuk mengurai kepadatan kendaraan. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/hp.
Puncak selalu macet tapi tetap jadi favorit wisata. Foto: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Jakarta -

Kawasan wisata Puncak di Bogor, Jawa Barat, masih menjadi favorit warga untuk menghabiskan waktu luang saat libur akhir pekan atau libur nasional. Padahal, kawasan Puncak langganan macet saat libur nasional

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, mengatakan kawasan Puncak selalu menjadi trending pada saat masa libur. Kemacetan lalu lintas seakan menjadi pemandangan umum di Puncak saat masa liburan.

"Kalau kita lihat, Puncak sejak tahun '70 itu menjadi suatu kawasan yang sangat diminati oleh masyarakat. Dan semakin digemari karena banyak hotel, banyak tempat makan, udaranya sejuk, sehingga kawasan puncak makin digemari, dan banyak sekali yang mengunjungi di waktu weekend dan sebagainya," kata Budi dalam Webinar "Puncak, Mengapa Diminati Meski Macet Menanti", Selasa (29/12/2020).

"Dan ingat bahwa sekarang Puncak ini bukan warga Jakarta saja tetapi juga warga dari mancanegara menjadikan ini tempat destinasi wisata," sambung Budi.

Menurut Budi, demand yang terus bertumbuh menjadi beban kawasan Puncak. Pembangunan yang dilakukan oleh berbagai pihak membuat daya tarik dan demand semakin bertambah.

"Dan tentu dampaknya sering terjadi kemacetan yang kronis di setiap akhir pekan, libur panjang," ucapnya.

Berbagai cara telah dilakukan untuk mengatasi masalah kemacetan di Puncak. Solusi jangka pendek, misalnya dengan menerapkan buka-tutup kawasan Puncak pada waktu tertentu saat hari libur.

"Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek dan seluruh pemangku kepentingan juga polisi dan Pemda berupaya melakukan rekayasa puncak, dengan uji coba 2-1 itu semua jangka pendek," ujarnya.

Untuk jangka panjang, pihaknya juga merencanakan pembenahan sistem transportasi. Salah satunya adalah subsidi bus. Dengan penggunaan bus dan transportasi umum ini, diharapkan masyarakat yang ingin menuju Puncak tak lagi mengandalkan kendaraan pribadi.

"Bus itu bisa untuk masyarakat yang harganya murah, juga bisa dibuat bus yang mewah. Bahkan kita menyarankan hotel-hotel itu juga memiliki bus agar pengunjung itu tidak menggunakan mobil menuju tempat-tempat itu. Bahkan kita berpikir bahwa, bila mungkin kita membuat ART, Autonomous Rapid Transit, suatu kereta dengan menggunakan ban bukan metal, sehingga kapasitasnya besar," kata Budi.



Simak Video "3 Hari Pemeriksaan Ganjil Genap Puncak, 78 Orang Kedapatan Belum Vaksin"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)