Hasil Studi: Emisi Mobil Hybrid Tidak Beda dengan Mobil Bensin

Rizki Pratama - detikOto
Rabu, 21 Okt 2020 14:47 WIB
Mobil Toyota Prius PHV GR Sport yang bikin Sri Mulyani Kesengsem
Mesin bensin mobil hybrid emisinya sama dengan mobil biasa. Foto: Dadan Kuswaraharja
Jakarta -

Sebuah hasil penelitian terbaru mengungkapkan sebagian besar mobil plug-in hybrid tidak lebih ramah lingkungan dibandingkan mesin pembakaran biasa karena jangkauan listrik yang terbatas. Selain itu, jika mobil plug-in hybrid tidak diisi secara teratur, emisi CO2 mereka sebenarnya bisa lebih buruk daripada model bensin atau diesel konvensional.

Para peneliti riset yang berasal dari institut Fraunhofer ISI dan International Council on Clean Transportation (ICCT) memeriksa data penggunaan 100.000 lebih mobil plug-in hybrid dari 66 model berbeda di Eropa, AS, dan Cina. Apa yang mereka temukan adalah mobil plug-in hybrid menghasilkan emisi CO2 rata-rata dua kali lebih tinggi dari apa yang diklaim pembuat mobil. Sebagai contoh, mobil plug-in hybrid dengan klaim tingkat CO2 50 gram per km sebenarnya akan menghasilkan antara 100 sampai 200 gram per km.

Studi juga menemukan fakta bahwa mobil jenis plug-in hybrid banyak digunakan sebagai kendaraan operasional perusahaan. Biasanya mobil-mobil ini digunakan dalam jarak tempuh tinggi yang mana di luar kapasias jangkauan baterainya. Kebutuhan yang tinggi membuat mobil ini sebenarnya lebih mengandalkan bahan bakar bensin daripada opsi listriknya. Ditambah lagi ada insentif perusahaan untuk pengisian bahan bakar.

Kebanyakan mesin bensin pada mobil hybrid memang lebih mendominasi daripada tenaga listriknya. Terkesan elektrifikasi pada hybrid hanya sekedar label agar dianggap ramah lingkungan.

"Jika kita ingin melihat konsumsi bahan bakar dan emisi CO2 yang lebih rendah dalam kehidupan nyata, mesin bensin perlu dikurangi proporsinya dan jangkauan listriknya ditingkatkan," kata penulis utama studi tersebut, Patrick Plotz.

Menurut perkiraannya, agar plug-in hybrid secara efisien menggantikan mobil konvensional jangkauan listriknya harus antara 80 km dan 90 km, bukan 30 km hingga 60 km seperti yang ada saat ini.

Plotz kebetulan juga melakukan studi sama tahun 2017 yang hasilnya mendukung keberadaan mobil plug-in hybrid. Namun, hasil studi terbarunya kini malah berbanding terbaluk.

"Saat itu, kami hanya melihat jumlah kilometer yang digerakkan secara elektrik. Kami tidak memeriksa penyimpangan dari siklus pengujian, dan di sanalah hasil yang tidak bagus ini dapat ditemukan," ungkapnya.

Studi baru cukup banyak memberi label plug-in hybrid untuk dapat beredar di negara dengan standar emisi tinggi. Padahal angka-angka tersebut hanya data di atas kertas, pada kenyataannya mereka mengeluarkan CO2 seperti mobil biasa.



Simak Video "Keren! Itenas Bandung Ciptakan Mobil Militer Tenaga Listrik"
[Gambas:Video 20detik]
(rip/din)