Rabu, 14 Okt 2020 16:15 WIB

Baterai Buatan RI Harus Bisa Dipakai Sendiri, Jangan Sampai Dimanfaatkan China

Luthfi Anshori - detikOto
Untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik di Indonesia, pemerintah mendorong percepatan pembangunan industri bahan baku baterai lithium. Peletakan batu pertama pabrik baterai Morowali. Foto: Kementerian Perindustrian
Jakarta -

Dengan modal cadangan bijih nikel terbesar di dunia, Indonesia bakal membangun industri baterai kendaraan listrik. Tapi hal itu juga harus dibarengi dengan pengembangan industri sepeda motor dan mobil listrik di Indonesia, agar bisa langsung dimanfaatkan. Jangan sampai baterai kendaraan listrik buatan Indonesia justru dibeli dan dimanfaatkan negara lain.

Indonesia menempati peringkat 1 cadangan (reserves) nikel secara global, dengan penguasaan sebesar 30,4%. Holding BUMN Tambang, PT Inalum (Persero)/ MIND ID, dengan kepemilikan di Antam dan Vale Indonesia, berpotensi menjadi pemain utama dalam penyediaan bahan baku baterai (NI).

Dalam webinar bertajuk 'Masa Depan Hilirisasi Nikel Indonesia' yang digelar Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (13/10), Direktur Utama PT Inalum (Persero)/MIND ID, Orias Petrus Moedak, mengatakan industri yang akan memanfaatkan baterai kendaraan listrik buatan Indonesia harus disiapkan. Agar ketika pabrik baterai di Indonesia sudah mapan, maka produknya bisa langsung diserap oleh industri di dalam negeri.

"Industri (kendaraan listrik) yang akan memakai baterai itu sendiri juga harus dikembangkan. Jangan sampai kita--seperti tadi sempat pak Irwandy (Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Mineral dan Batu Bara sebut--malah membiayai industri di China," kata Orias.

Orias menjelaskan, jika industri baterai kendaraan listrik sudah dibuat dari hulu sampai hilir, tapi kemudian pemanfaatannya di dalam negeri sangat minim, maka akhirnya harus diekspor keluar negeri.

"Kalau kita bisa menghasilkan sesuatu dengan harga yang tidak terlalu mahal di dalam negeri kemudian dibeli oleh perusahaan luar negeri, ya itu sama saja kita memberikan subsidi secara tidak langsung," jelasnya.

Orias menargetkan pertumbuhan baterai kendaraan listrik domestik sampai tahun 2030 itu mencapai kapasitas 8 hingga 10 GWh (Giga Watt hour).

"Ini perhitungannya menggunakan asumsi kurang lebih di 2035 itu sampai 2 jutaan sepeda motor listrik dan 600 ribu mobil listrik terjual. Dengan asumsi kapasitas baterai untuk roda empat itu 40 KWh dan untuk roda dua 2 KWh. Asumsi ini kita pakai untuk rencana ke depan, yang sedang kita siapkan bersama dengan BUMN lain, PLN dan Pertamina, dan Aneka Tambang (Antam). Jadi ini rencana besar yang sedang disiapkan Kementerian BUMN," bilang Orias.

Sebagai informasi, PTInalum (Persero)/ MIND ID bakal membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Maluku Utara. "Secara keseluruhan mengenai rencana kerja sama kami dengan mitra kami dari luar, itu yang sedang mulai dibicarakan, yaitu dengan mitra dari China dan Korea," kata Orias.

Proyek dari hulu hingga hilirisasi secara konsorsium akan dilakukan oleh holding BUMN pertambangan MIND ID atau Inalum melalui PT Aneka Tambang Tbk, bersama dengan PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero) dengan total nilai investasi mencapai US$ 12 miliar atau sekitar Rp 177,6 triliun.

Perkiraan investasi US$ 12 miliar tersebut, berasal dari dua perusahaan calon mitra di mana masing-masing diperkirakan akan berinvestasi US$7 miliar dan US$ 5 miliar, tergantung dari ukurannya. Saat ini menurutnya pihaknya tengah dalam proses pembicaraan dengan calon investor tersebut dan diharapkan kesepakatan bisa segera tercapai.



Simak Video "Motor Listrik Mengaspal di Kota Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(lua/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com