Makin Sedikit Orang Indonesia Pakai Premium

Tim detikcom - detikOto
Senin, 05 Okt 2020 17:31 WIB
Warga membeli bbm subsidi jenis premium di SPBU Pertamina, Otista, Jakarta Timur, Jumat (15/11/2019). Pertamina berharap penyaluran BBM Bersubsidi tepat sasaran. Sebab yang terjadi di lapangan hingga kini BBM Bersubsidi masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat yang secara ekonomi tergolong mampu.
Konsumsi BBM jenis Premium diprediksi terus berkurang. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium diprediksi akan terus berkurang. Pertamina mendorong masyarakat untuk menggunakan BBM yang lebih ramah lingkungan.

Menurut CEO Commercial & Trading Subholding Pertamina Mas'ud Khamid, konsumsi Premium diprediksi akan terus menurun sampai empat tahun ke depan. Hal itu juga sudah mulai dirasakan saat ini.

"Kita lihat bahwa Januari 2019 total yang kami salurkan gasoline (bahan bakar jenis bensin) 90.000 KL (kiloliter) per hari, di mana komposisi Premium 31,6 (ribu KL/hari) dan Pertamax di 10,3 (ribu KL/hari)," kata Mas'ud dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Senin (5/10/2020).

Per September 2020, konsumsi BBM jenis Premium dilaporkan turun. Sementara konsumsi jenis Pertamax mengalami peningkatan.

"Hari ini kita lihat September 2020, Premium tinggal 23 ribu KL per hari. Sementara Pertamax-nya di 10,6-10,7 (ribu KL) per hari," sebutnya.

Konsumsi Premium yang menurun itu, kata Mas'ud, merupakan hasil dari upaya pihaknya untuk tetap selaras dengan regulasi dari Pemerintah. Pertamina juga berusaha melakukan pola marketing penyaluran Premium tepat sasaran.

"Sehingga hasilnya Premium dari 30 ribu KL per hari, hari ini menjadi 23 ribu KL per hari," ucapnya.

Dalam empat tahun ke depan, sambungnya, jika mengandalkan rencana marketing, pada 2024 konsumsi bahan bakar jenis gasoline mencapai 106 ribu kiloliter per hari. Saat itu, konsumsi Premium diproyeksi terus menurun.

"Di mana komposisi Pertalite 61 ribu KL (per hari) atau tetap 57% dan yang menarik adalah Premium menjadi 13,8 ribu KL. Jadi Premium di sini sudah kurang dari setengahnya Pertamax," katanya.

"Jadi Pertamax yang asalnya hari ini 10 ribu KL per hari menjadi 20 ribu-30 ribu KL per hari. Jadi nantinya di 2024 kalau regulasi tidak berubah, hanya mengandalkan pola marketing maka sales Premium akan menjadi 1/3-nya sales Pertamax," sebut Mas'ud.



Simak Video "Premium Bakal Dihapus, Ini Tanggapan Warga"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)